Warga Samarinda Berharap Jalan Layang Atasi Kemacetan

Warga Samarinda, Kalimantan Timur, berharap pembangunan jalan layang Air Hitam dapat menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan di daerah itu. <p style="text-align: justify;">"Warga Kota Samarinda perlu solusi alternatif mengatasi kemacetan yang semakin parah. Terlebih, jumlah kendaraan yang semakin bertambah setiap harinya sehingga kehadiran ‘flyover’ yang akan mulai dibangun tahun ini akan menjadi solusi yang baik," kata seorang warga Samarinda, Astri Paramita Sosang, di Samarinda, Selasa (9/9).<br /><br />Warga Samarinda lainnya, Junaid Purwanto, juga mengharapkan agar pembangunan jalan tersebut membuat arus lalu lintas di daerah itu lebih lancar.<br /><br />"Semoga, pembangunan ‘flyover’ Air Hitam tersebut tidak molor dan bisa selesai sesuai target," katanya.<br /><br />Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang mengatakan pembangunan jalan layang sebagai upaya mengatasi kemacetan yang sering terjadi di Simpang Empat Air Hitam.<br /><br />Pemerintah Kota Samarinda, katanya, pada tahun anggaran 2014 telah menetapkan rencana pembangunan jalan layang Air Hitam tersebut.<br /><br />"Pengembangan ide-ide infrastruktur terus dilakukan untuk mempermudah akses lalu lintas agar kenyamanan dan keselamatan lalu lintas tetap terjaga. Selain lebih efisien dan efektif, keberadaan ‘flyover’ itu juga nanti dapat mengurai simpul macet pada titik simpang empat Air Hitam, tentu dengan jarak tempuh yang sama, konsumsi energi berupa BBM akan berkurang," katanya.<br /><br />Ia berharap masyarakat mendukung pembangunan jalan layang pertama di Kota Samarinda tersebut.<br /><br />"Ke depan, rencana pembangunan ‘flyover’ akan tetap dilakukan pada titik rawan macet lainnya," katanya.<br /><br />Saat ini, pemkot setempat fokus pelebaran jalan sebagai tahapan untuk pembangunan jalan layang tersebut.<br /><br />"Saat ini, kami fokus pelebaran jalan dilakukan lebih awal agar tidak menambah kemacetan saat pekerjaan berlangsung. Setelah pelebaran selesai, barulah dilakukan pemancangan tiang kemudian tahap selanjutnya. Karena itu, dukungan dari seluruh elemen masyarakat sangat kami harapkan agar pembangunan ‘flyover’ Air Hitam dapat selesai sesuai target," kata Syaharie Jaang.<br /><br />Saat mengunjungi loka karya PT Wijaya Karya (Wika) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur pada Kamis (4/9), pelaksana konstruksi jalan layang Air Hitam itu, kata Syaharie Jaang, memberikan optimisme bahwa dari 30 "U Girders" yang berfungsi sebagai penopang struktur di atasnya, yaitu lantai jembatan layang yang akan dipasang pada konstruksi bangunan, 11 diantaranya sudah selesai.<br /><br />"Dari penjelasan pihak PT Wika, seluruh ‘U Girders’ ini akan selesai pada Oktober 2014 dan siap untuk dikapalkan dan direncanakan dalam dua kali pengiriman," katanya.<br /><br />Ia optimistis target pada Desember 2014, jalan layang sudah mencapai progres 73 persen yang terdiri atas penyelesaian "U Girders", pengeboran untuk tiang pancang, dan pelebaran jalan.<br /><br />Terkait dengan pelebaran jalan, Syaharie Jaang menjelaskan hal tersebut diperlukan agar saat pengerjaan konstruksi jalan layang tidak mengganggu arus lalu lintas.<br /><br />Hal lain yang dihadapi adalah terkait dengan pembebasan lahan yang masih belum selesai. Pemerintah Kota Samarinda telah menyiapkan anggaran pembebasan lahan hingga Rp20 miliar.<br /><br />"Badan Pertanahan Nasional (BPN) Samarinda sudah menyelesaikan peta lokasi tanah yang terkena dampak pembangunan ‘flyover’, sehingga langkah selanjutnya adalah menunjuk tim apparaisal yang akan melakukan penaksiran harga tanah yang akan dibebaskan," katanya.<br /><br />Ia mengharapkan berbagai kendala untuk pelaksanaan proyek itu segera diatasi.<br /><br />"Saya kira berbagai hal yang saat ini menjadi kendala, satu demi satu sudah mulai terselesaikan. Bahkan jika ada masalah di pembebasan lahan, saya sendiri akan turun untuk berbicara kepada pemilik lahan karena pembangunan ‘flyover’ ini untuk kepentingan masyarakat Samarinda juga. Namun, saya berharap tidak ada perdebatan yang alot dengan masyarakat terkait ganti rugi yang tidak sesuai," katanya.<br /><br />Jika anggaran Rp20 miliar dari APBD 2014 itu masih belum cukup, katanya, akan dianggarkan melalui APBD 2015 sehingga warga yang lahannya terkena dampak pembangunan tidak perlu khawatir.<br /><br />"Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 4.000 meter persegi lahan yang terkena dampak pembangunan ‘flyover’. Ditargetkan ‘flyover’ sepanjang 641 meter ini akan selesai pada November 2015," ujar Syaharie Jaang. (das/ant)</p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.