Wilayah Sungai Pinoh Perlu Dibangun PKS

MELAWI – Masyarakat berharap di wilayah Sungai Pinoh didirikan pabrik Pengolah Kelapa Sawit (PKS). Apalagi setiap perusahaan perkebunan memang telah diwajibkan memiliki pabrik untuk mengolah buah sawit dari kebunnya. Seperti yang disampaikan oleh mantan Anggota DPRD Melawi, Ritaudin.

Ia mengatakan, saat ini di wilayah Sungai Pinoh ada tiga perusahaan perkebunan yang telah membangun kebun kelapa sawit.

“Bahkan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di jalur Sungai Pinoh ini rata-rata sudah panen raya. Bukan lagi dengan istilah panen buah pasir,” ungkapnya, Kamis (21/6).

Lebih lanjut Ia mengatakan, saat ini rata-rata buah sawit tersebut masih dibawa keluar, karena di wilayah Sungai Pinoh belum ada satu perusahaan perkebunan yang sudah memiliki pabrik PKS. “Ada yang buah sawitnya dibawa ke pabrik yang ada di Menukung dan ada juga yang buah sawitnya dibawa keluar Kabupaten Melawi,” ujarnya.

Ritaudin menuturkan, mengingat perusahaan-perusahaan tersebut rata-rata sudah panen, maka masyarakat sangat berharap kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di jalur Sungai Pinoh supaya mendirikan pabrik. “Apalagi memang, mendirikan pabrik PKS ini memang harus dilakukan oleh perusahaan perkebunan, bahkan izin pabrik tersebut bersamaan dengan izin kebun,” ujarnya.

Menurut Ritaudin, kalau belum ada pabrik, tidak hanya perusahaan yang kesulitan menjual buah sawitnya, namun masyarakat juga akan dirugikan, sebab kalau buah sawit dibawa keluar, apalagi kalau sampai dibawa keluar Melawi tentu biaya operasional akan tinggi. “Sementara biaya operasional tersebut juga dibebankan kepada masyarakat sebagai petani plasma perusahaan perkebunan. Kalau biaya operasi onal tinggi tentu bagi hasil yang didapat oleh masyarakat akan kecil,” ucapnya.

Tapi, tambahnya, kalau perusahaan sudah memiliki pabrik sendiri, tentu biaya operasional angkutan buah sawit ke pabrik akan kecil. Karena biaya yang dikeluarkan paling untuk biaya operasional angkutan dari jalan blok sampai menuju pabrik.

Itu baru berbicara perusahaan. Belum lagi berbicara buah kelapa sawit dari kebun-kebun swasdaya miliki masyarakat. Dengan adanya pabrik tersebut, tentu masyarakat juga semakin dekat menjual buah sawit dari kebun pribadinya. “Artinya masyarakat yang bukan petani plasma perusahaan juga akan diuntungkan dengan adanya pabrik tersebut,” ucapnya.

Belum lagi berbicara dampak kepada infrastruktur jalan. Kalau ada pabrik tentu mobilitas kendaraan akan berkurang, karena kendaraan yang keluar masuk hanya kendaraan pengangkut CPO. “Sebab dampak dari kendaraan angkutan sawit ini luar biasa. Contohnya jalan menuju Ella Hilir, karena banyak kendaraan angkutan buah sawit yang menuju ke pabrik di sana, kerusakan jalanpun tidak bisa dihindari,” pungkasnya. (Edi/KN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.