WWF-Indonesia: Telur Penyu Paloh Kembali Marak Diburu

WWF-Indonesia menyatakan perburuan telur penyu di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, meningkat pada musim puncak peneluran pada Juni hingga Oktober tahun ini. <p style="text-align: justify;">"Setelah sempat turun drastis, kini menunjukkan peningkatan," kata Koordinator Site Paloh WWF-Indonesia Dwi Suprapti di Pontianak, Senin.<br /><br />Ia mengatakan hasil pemantauan terhadap intensitas ancaman di tahun 2009 menunjukkan bahwa, di Sebubus, Kecamatan Paloh, hampir seluruh sarang telur penyu (2.146 sarang) diambil oleh masyarakat.<br /><br />Pada 2010 jumlah ini menurun menjadi 1.849 sarang atau secara persentase sarang telur yang diambil masyarakat pada tahun 2009 dan 2010 adalah 99 persen dan 95 persen.<br /><br />Kemudian, dua tahun berikutnya proporsi pengambilan tak sah ini menurun drastis yakni tahun 2011 dan 2012 dimana masing-masing 26 persen dan 22 persen sarang yang hilang atau diburu.<br /><br />Ia menambahkan, penurunan itu seiring dengan peranan Pokmaswas (Kelompok masyarakat Pokmaswas) "Kambau Borneo" yang membantu memonitor Pantai Peneluran Penyu Paloh sepanjang hari selama musim puncak peneluran berlangsung.<br /><br />Namun, pada musim puncak 2013 perburuan telur penyu kembali meningkat yaitu lebih dari 40 persen di wilayah Desa Sebubus dan hampir lebih 95persen di wilayah Desa Temajuk.<br /><br />Modus yang dilakukan pelaku berbagai macam, diantaranya ke pantai dengan berpura-pura sebagai wisatawan yang ingin melihat ritual penyu bertelur.<br /><br />Lalu, ada juga yang bermodus berkebun di pantai, atau menjaring ikan di pantai.<br /><br />"Pokmaswas Kambau Borneo telah berupaya keras menjaga dan mengawasi pantai dari aktivitas masyarakat," katanya.<br /><br />Namun, ia menegaskan, luasnya pantai dan akses yang terbuka, tak seimbang dengan jumlah pengawas.<br /><br />"Ini memicu keberanian sejumlah pihak untuk mengambil telur penyu dengan berbagai modus tadi," kata Dwi Suprapti.<br /><br />Berdasarkan hasil investigasi menunjukkan perdagangan telur penyu asal Paloh menduduki angka tertinggi penjualan ke wilayah Teluk Melano, Malaysia.<br /><br />Di Malaysia, penampung siap membelo dengan harga 80 sen ringgit Malaysia perbutir atau sama dengan Rp2800,- dan dijual kembali dengan harga pasar tiga butir 10 RM. Per butirnya sekitar Rp12.000,- dengan kurs satu RM adalah Rp3.500,-.<br /><br />Sedangkan harga jual lokal Rp1.500,-, dijual kembali di kisaran Rp.2.500 – Rp 3.500,-.<br /><br />"Malaysia menjadi target pasar perdagangan telur penyu asal Paloh. Selain lebih mahal, secara geografis lebih dekat lokasinya," ujar Dwi Suprapti.<br /><br />Wlayah pesisir Paloh terletak di sebelah utara Kabupaten Sambas, dan memiliki pantai berpasir yang membentang lebih dari 100 kilometer.<br /><br />Sekitar 79 persen dari total garis pantai atau 63 kilometer diantaranya merupakan habitat peneluran bagi Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate).<br /><br />Paloh merupakan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia.<br /><br />Data WWF – Indonesia menunjukkan lebih dari 2.000 sarang Penyu Hijau (lebih dari 500 betina) per tahun yang dijumpai di Pantai Paloh.<br /><br />Hal ini menjadikan jumlah populasi Penyu Hijau di Paloh terbesar kedua rantai yang terbentang dari Peninsula, Malaysia sampai Lautan Sulu, Sulawesi. <strong>(das/ant)</strong></p>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.