“Si Manis” Yang Hilang Di Pasar

oleh

“Ya ampun…dimana saya bisa dapatkan gula. Dari Pasar Sungai Durian hingga Pasar Inpres, mini market, Swalayan semua mengatakan tidak ada,”keluh Lina, seorang ibu rumah tangga. <p style="text-align: justify;">Keluhan Ibu Lina tersebut, juga dirasakan oleh ibu-ibu rumah tangga lainnya di kota Sintang yang dalam beberapa minggu hingga lima hari menjelang Natal resah dan bingung untuk mendapatkan “kristal manis”.<br /><br />Sejak gula asal negeri jiran diblokir oleh petugas di pintu masuk lintas batas, membuat keberadaannya sulit untuk didapat, sementara gula dalam negeri lambat pengiriman karena faktor gelombang laut yang tinggi.<br /><br />“Kami tidak berani jual gula malaysia, takut di razia petugas,” kata Amen, pedagang sembako di Pasar Tradisional Seroja.<br /><br />Menurutnya, banyak ibu-ibu yang kesal karena tak mendapatkan gula bahkan menuduh pedagang sengaja menimbun.<br /><br />“Mau bilang apa lagi Pak, memang beginilah kondisinya,” katanya.<br /><br />Nurhayati, warga Pangeran Kuning mengungkapkan, dirinya harus berburu gula hingga ke Jerora yang jaraknya lumayan jauh.<br /><br />“Kemarin saya beli di kawasan Jerora di warung-warung kecil. Harganya Rp 12 ribu per kilonya. Itupun cuma ada 3 kilo,” ungkapnya.<br /><br />Lain halnya dengan Ibu Tina warga Jalan Imam Bonjol. Dirinya yang sebelum bulan Desember sudah mendapatkan pesanan membuat kue kering untuk Natal, mengaku tidak lagi menerima pesanan akibat gula pasir yang langka.<br /><br />“Saya batalkan beberapa pesanan, termasuk untuk membuat kue basah. Stok gula yang ada tak mungkin saya habiskan untuk kue. Rugi sebenarnya membatalkan pesanan, tapi mau apalagi,” keluhnya.<br /><br />Menurutnya, Pemerintah daerah harus segera mengambil sikap guna mengkondusifkan keadaan. <br /><br />“Jika tidak, bisa-bisa hanya minum kopi atau teh pahit saja karena tak ada gula,”pungkasnya.<strong>(*)</strong></p>