Ada Aroma Status Quo Sekelompok Sub Suku Di DAD Sintang

oleh
oleh

Rumor telah terjadi perpecahan di tubuh DAD Sintang sudah lama terdengar. Perpecahan di tubuh organisasi adat ini makin mencuat setelah “sengketa” yang terjadi antara ketua Mikael Abeng dan sekretari umum Askiman DAD Sintang terposting di jejaring sosial facebook. <p style="text-align: justify;">Sengketa yang ada kian mengerucut jelang pelaksanaan gawai dayak yang direncanakan di buka oleh gubernur Cornelis yang juga ketua DAD Kalbar pada 18 Juli mendatang di gedung serba guna Jln.Oevang Oeray Sintang.<br /><br />Perpecahan di tubuh DAD Sintang ini kembali mengundang tokoh muda perbatasan Tito Fratno memberikan komentarnya.<br /><br />“Saya mencium ada aroma status quo yang dilakukan oleh sub suku Dayak tertentu di Sintang ini. Masyarakat pasti sudah tahu sub suku Dayak apa itu. Padahal keberadaan sub suku Dayak itu di Sintang ini hanya ada di dua kecamatan,”tegasnya saat ditemui di Sintang pada Minggu (15/07/2012).<br /><br />Dikatakan Tito, sub suku Dayak yang dominan dan tersebar di 12 kecamatan di Sintang ini adalah Ibanik group.<br /><br />Diminta secara spesifik menjelaskan tentang tuduhan adanya keinginan status quo di tubuh DAD Sintang, Tito pun menguraikan perjalanan kepengurusan DAD Sintang hingga saat ini. Menurutnya selama lebih dari 20 tahun, kepenguruan DAD di pegang oleh hanya satu sub suku Dayak saja. Masa kepemimpinanya pun sangat lama. Disebutnya nama tokoh Dayak Asam Djarak almarhum yang pernah memegang tampuk kepemimpinan DAD dalam kurun waktu lama. Setelah  dilakukan pergantian di dengan naiknya kembali Mikael Abeng sebagai penerus kepemimpinan DAD Sintang.<br /><br />“Tanggal 28 Juli ini, masa kepemimpinan Pak Abeng habis. Seharusnya dilakukan pemilihan ulang. Tapi lagi-lagi tercium upaya agar kepemimpinan itu diteruskan oleh ketua saat ini dan gawai Dayak ini dijadikan sebagai alat. Kalau tidak percaya, lihat saja apa agenda yang akan dihelat dalam gawai Dayak nanti,”ujarnya.<br /><br />Pemuda asal desa Suak Medang kecamatan Ketungau Hulu ini juga membeberkan sejumlah bukti bahwa dana DAD sebesar Rp 150 juta yang dicairkan oleh ketua DAD Sintang Mikael Abeng hanya digunakan untuk keperluan masyarakat Serawai dan Ambalau saja. Padahal menurutnya DAD bukan milik masyarakat dua kecamatan itu saja dan bukan juga milik sub suku Dayak tertentu.<br /><br />“DAD itu milik semua masyarakat Dayak yang ada di Sintang ini. Maka menurut saya harus segera dilaksanakan musdat untuk menentukan ketua dan pengurus DAD yang baru. Bukan hanya untuk masyarakat sub suku Dayak tertentu, seperti yang terjadi sekarang ini. Boleh di cek, komposisi kepanitiaan gawai Dayak Sintang itu, berapa banyak sih bukan dari sub suku Dayak yang saya maksudkan,”bebernya.<br /><br />Terkait dengan penggunaan dana Rp 150 juta yang telah disinggungnya, Tito enggan memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia hanya mengatakan bahwa saat ini pemerintah melalui inspektorat tengah melakukan audit. <strong>(phs)</strong></p>