Adaro Mendukung Pembudidayaan Jamur Tiram

oleh

Tim Program Kepeduluan Masyarakat (CSR) perusahaan tambang batu bara PT Adaro Tabalong-Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan pembudidayaan jamur tiram yang dianggap memiliki nilai ekonomi melalui program kampung iklim. <p style="text-align: justify;">Menurut Kepala Seksi Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan pada CSR PT Adaro Indonesia, Sri Armiyati Jarkasyi, Jumat di Paringin mengatakan, dukungan ini sekaligus mengenalkan masyarakat pada peluang ekonomi.<br /><br />Saat ini ujar Sri, minat pembeli terhadap jamur tiram cukup tinggi, satu penjual bisa menjual sebanyak 20 kilogram dalam sehari.<br /><br />“Dengan harga jual per kilonya senilai Rp30 ribu, dan dalam sehari 20 kilogram terjual, satu pedagang bisa meraup keuntungan kotor sebesar Rp600 ribu perharinya, dengan modal per kilonya hanya Rp6 ribu,” jelasnya.<br /><br />Masyarakat harus jeli melihat peluang bisnis seperti ini ujar Sri, selain tidak memerlukan biaya besar, hal ini bisa dilakukan oleh kalangan ibu rumah tangga bahkan dipekarangan rumah.<br /><br />“Budidaya jamur ini sangat mudah, sehingga tidak memerlukan lahan dan waktu yang banyak, serta hasilnya bernilai ekonomi bagi warga,” terangnya.<br /><br />Kemampuan untuk terus memperbaharui penguasaan teknologi budidaya jamur yang terus berkembang, juga menjadi keharusan untuk menuai sukses.<br /><br />Budidaya jamur yang terus diminati banyak kalangan, tentu mendorong hadirnya inovasi baru dalam upaya penanamannya.<br /><br />Kampung Iklim yang diluncurkan pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup, bertujuan untuk membentuk pemahaman dan perilaku warga dalam upaya melawan perubahan iklim, melalui kegiatan yang berskala rumahan.<br /><br />Program ini lantas disambut oleh CSR Adaro dengan pilot project awal di Masingai Kabupaten Tabalong dan selanjutnya akan terus dikembangkan kewilayah lainnya, kata Sri.<br /><br />Melalui program kampung iklim inilah ungkap Sri, kemudian akan dibentuk kelompok masyarakat peduli lingkungan (KMPL) dengan anggota sebanyak 25 orang.<br /><br />“Secara bertahap, mereka diperkenalkan dengan pola pertanian organik berupa sayuran dan tanaman obat keluarga, dengan area tanam di sekitar pekarangan rumah,” katanya.<br /><br />Pertimbangannya, selain untuk memandirikan organisasi secara finansial, juga untuk menambah penghasilan keluarga, ditengah melorotnya harga karet yang selama ini menjadi sandaran hidup petani karet.<br /><br />Ke depan, Sri Armiyati berharap, KMPL terus berkembang dan mampu menghadirkan beragam usaha komunal, yang tidak hanya berdampak secara ekonomi bagi kelompok tersebut, namun juga mampu menjadi contoh bagi kelompok masyarakat lainnya. (das/ant)</p>