Ketua Komisi VI DPR RI, Airlangga Hartarto mengatakan, banyak industri nasional mengalami kesulitan karena kalah bersaing dengan industri asing yang harga produknya lebih murah di pasar domestik. <p style="text-align: justify;">Ketua Komisi VI DPR RI, Airlangga Hartarto mengatakan, banyak industri nasional mengalami kesulitan karena kalah bersaing dengan industri asing yang harga produknya lebih murah di pasar domestik.<br /><br />"Industri nasional mengalami kesulitan setelah diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China (ACFTA) sejak 1 Januari 2010," kata Airlangga Hartarto, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.<br /><br />Menurut dia, produk impor terutama dari China yang harganya lebih murah di pasar Indonesia menyebabkan industri nasional terus mengalami defisit dan saat ini dalam kondisi sulit.<br /><br />Kesulitan yang dihadapi industri nasional, kata dia, merupakan dampak negatif dari diberlakukannya perpanjian ACFTA.<br /><br />"Karena industri nasional belum seluruhnya siap menghadapi persaingan dagang dengan industri China," katanya.<br /><br />Menurut dia, Komisi VI DPR RI sudah memprediksi kemungkinan terpuruknya industri nasional sejak sebelum diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China.<br /><br />Airlangga menambahkan, Komisi VI juga sudah beberapa kali mengingatkan pemerintah, terutama menteri perdagangan.<br /><br />"Saat ini menteri perdagangan sudah terlambat menerbitkan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi produk industri nasional," katanya.<br /><br />Airlangga juga menilai, menteri perdagangan kurang antisipatif menotifikasi standar nasional Indonesia (SNI) untuk perlindungan konsumen.<br /><br />Sementara dari sisi investasi, menurut dia, belum ada investasi yang signifikan dari China setelah diperlakukannya perjanjian ACFTA. (Eka/Ant)</p>














