Anggota TNI Pelaku Penganiayaan Perlu Pembinaan Mental

oleh

Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyatakan, dua oknum anggota TNI berpangat Pratu berinisial Nik dan Dik pelaku penganiayaan terhadap Miftah Farid (24) seorang penjual premium eceren, Sabtu (28/1) di Pontianak perlu dilakukan pembinaan mental. <p style="text-align: justify;">"Pelaku penganiayaan itu perlu dilakukan pembinaan, jangan mentang-mentang dia aparat sehingga bisa berbuat semena-mena," kata Sutarmidji di Pontianak, Senin.<br /><br />Ia menyesalkan, hingga terjadi insiden penganiayaan oleh oknum TNI tersebut hanya karena persoalan sepele yang seharusnya tidak terjadi kalau pelaku tidak berbuat semena-mena.<br /><br />"Kedua pelaku itu harus ditindak tegas dan diproses hukum," kata Sutarmidji.<br /><br />Sebelumnya, Komandan Yon 465 Paskhas Lanud Supadio Mayor Psk Rana Nugraha menyatakan, pihaknya menanggung semua biaya pengobatan Miftah Farid (24) korban penganiayaan oleh oknum TNI berpangat Pratu berinisial Nik dan Dik.<br /><br />"Semua biaya pengobatan kami tanggung, kedua anggota itu juga sudah disel dan diproses hukum oleh Polisi Militer TNI-AU," katanya.<br /><br />Ia menjelaskan, persoalan itu sudah diselesaikan dengan pihak keluarga korban secara kekeluargaan. "Untuk kedua pelaku penganiayaan tetap dilakukan proses hukum sesuai dengan ketentuan yang ada," ujarnya.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Komandan Yon 465 Paskhas Lanud Supadio menyampaikan permohonan maafnya kepada keluarga korban dan masyarakat pada umumnya atas kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum TNI-AU tersebut.<br /><br />Sebelumnya, sekitar pukul 15.30 WIB, kios bensin milik Miftah Farid (24) yang berada di bawah jembatan Kapuas I, Jalan Sultan Hamid II, didatangi oknum anggota TNI.<br /><br />Dua oknum anggota TNI meminta paksa bensin yang dijual Farid untuk mengisi tangki motornya tanpa mau membayar.<br /><br />Miftah Farid yang tinggal di Jalan Swadaya, Gang 18, No. 64, itu sudah berjualan bensin di kios tersebut lebih dari lima tahun, tidak bisa menerima kemauan kedua oknum aparat tersebut.<br /><br />Namun ternyata, kedua oknum berpangkat Pratu itu malah menganiaya Miftah Farid sehingga mengalami luka bocor di bagian belakang kepala.<br /><br />"Ia (korban) dipukul dengan peralatan bengkel miliknya di bagian kepala belakang dan berdarah. Juga dipukul bagian badannya dan ditendang berulang kali," kata Agustina (34) saudara perempuan Miftah Farid.<br /><br />Agustina mewakili keluarga korban penganiayaan meminta agar para pelaku diberikan sanksi hukuman pidana dan dipecat dari pekerjaannya.<br /><br />"Mereka kan petugas, harusnya jadi pengayom bukan malah menganiaya warga yang tidak mampu," katanya.<br /><br />Keluarga korban meminta agar pelaku tersebut dihukum dan dipecat dari tempat kerjanya karena dinilai tidak bisa melindungi warga. Justru memukul, memeras dan melakukan aksinya saat siang hari.<br /><br />"Pecat saja mereka, tidak layak jadi anggota TNI dan proses hukum tetap berjalan. Kalau siang hari saja begitu, berarti sudah biasa," kata Agustina lagi. <strong>(phs/Ant)</strong></p>