Arpusda Melawi Terkendala Gedung

oleh

Gedung yang representatif memang sangat dibutuhkan oleh kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Melawi. <p style="text-align: justify;">Karena hingga saat ini, kantor yang memegang peranan penting dalam penyimpanan arsip dan perpustakaan tersebut justru masih menyewa bangunan ruko.<br /><br />Kepala Arpusda Melawi, Kartiman yang dijumpai sejumlah wartawan disela kegiatan Bimtek Pengelolaan Perpustakaan Desa dan Sekolah mengungkapkan persoalan gedung menjadi kendala utama instansinya dalam melaksanakan tugas.<br /><br />“Kantor kita sekarang belum bisa digunakan untuk menyimpan berbagai arsip sehingga terpaksa seluruh arsip yang ada di SKPD masih berada di SKPD tersebut masing-masing,” katanya.<br /><br />Dahulu, kata Kartiman, memang sudah sempat ada wacana untuk membangun gedung Arpusda, namun hal tersebut belum juga dianggarkan hingga saat ini. <br /><br />“Saya sudah meminta petunjuk bupati terkait persoalan ini. Dari beliau disarankan kalau nanti kantor Dinas Kehutanan pindah ke tempat yang baru, maka Arpusda bisa menempati kantor Kehutanan yang lama,” ujarnya.<br /><br />Ketiadaan gedung yang layak juga membuat perpustakaan daerah Melawi tak berjalan optimal karena ketiadaaan ruang baca di tempat tersebut. Masyarakat umum, kata Kartiman biasanya datang untuk meminjam buku yang akan dibawa pulang.<br /><br />“Sekarang ada sekitar 1.700 anggota. Jadi mereka bisa pinjam buku selama beberapa hari dan mesti dikembalikan. Hanya persoalannya ada beberapa anggota yang meminjam tak dikembalikan,” paparnya.<br /><br />Satu hal yang masih menjadi masalah,kata Kartiman adalah tenaga untuk arsiparis dan pustakawan yang masih langka di kantornya. Arpusda bahkan tak memiliki tenaga arsiparis setelah satu-satunya arsiparis di kantor tersebut dipindahkan ke Sekretariat Daerah.<br /><br />“Pustakawan juga hanya ada satu. Jadi kita berharap dalam formasi penerimaan pegawai ini bisa dimasukkan,” katanya.<br /> <br />Arpusda sebenarnya memiliki peranan penting dalam bagian mencerdaskan kehidupan masyarakat. Apalagi Perpustakaan Daerah Melawi sudah memiliki 32 ribu koleksi buku-buku yang bisa diakses langsung oleh masyarakat.<br /><br />“Sebenarnya kalau anggaran kita cukup, tidak bisa hanya sekedar menunggu saja, tapi bisa dijalankan untuk keliling ke sekolah bahkan ke kecamatan. <br /><br />Sekarang kita juga meminta agar tahun tahun berikutnya perpustakaan bisa mendapatkan suntikan dana dari provinsi dan pusat. Kalau dari APBD masih sangat terbatas,” jelas Kartiman.<br /><br />Sementara itu, Wakil bupati Melawi, Panji saat membuka kegiatan Bimtek mengatakan, agar Kabupaten Melawi bisa berkualitas, syarat penting yang harus dipenuhi adalah ketika orang-orangnya mempunyai ilmu yang memadai, maka dari itu semangat membaca masyarakat harus terus didorong.<br /><br />“Sebab hanya dengan membaca buku wawasan keilmuan kita akan bertambah, maka dari itu perpustakaan yang ada hendaknya bisa kita manfaatkan. Luangkan waktu sejenak untuk membaca,” katanya.<br /><br />Kata Panji, untuk mendorong masyarakat supaya semangat membaca, memang harus dilakukan kerja keras. Termasuk menyediakan buku yang sesuai dengan kebutuhan.<br /><br />“Misalnya saat datang ke desa, buku yang harus disediakan adalah tentang pemerintahan dan desa dan pengelolaan keuangan. Mungkin mereka tidak berminat, namun karena mereka butuh akhirnya mereka membaca,” katanya.<strong> (ek/kn)</strong></p>