Askiman : Musdat DAD Yang Penuh Rekayasa

oleh
oleh

Gawai Dayak sudah berakhir serta versi hasil Musyawarah Adat menyebutkan bahwa kepengurusan DAD Kabupaten Sintang periode 2008 – 2012 sudah dinyatakan berakhir, dan secara aklamasi pula Mikael Abeng terpilih kembali menjadi Ketua DAD Kabupaten Sintang periode 2012 – 2017. <p style="text-align: justify;">Sekretaris Umum DAD Kabupaten Sintang periode 2008 – 2012 Askiman mempertanyakan hasil keputusan Musdat tersebut. Sebab menurutnya, masa bakti kepengurusan 2008-2012 baru berakhir pada tanggal 28 Juli 2012 nanti.<br /><br />“Musdat itu hanya rekayasa dari Abeng untuk mempertahankan status quo-nya sebagai ketua DAD Kabupaten Sintang saja, karena kepengurusan baru berakhir tanggal 28 Juli 2012,” kata Askiman, saat dihubungi kalimantan-news.com tengah berada di Pontianak.<br /><br />Selain itu, lanjut Askiman jika memang ada pengurus DAD Kabupaten Sintang yang dinilai kurang loyal ataupun melanggar aturan yang dibuat DAD maka yang mengeluarkan rekomendasi untuk pemberhentian  adalah Dewan Pertimbangan melalui mekanisme yang diatur dalam AD/ART<br /><br />“Dengan demikian sudah jelaslah siapa yang melanggar aturan? Saya justeru menilai beliau sendirilah yang tidak memahami AD/ART, karena yang berhak memberhentikan jabatan dalam kepengurusan adalah Dewan Pertimbangan,” ujar Askiman.<br /><br />Yang mengherankannya, lanjut Askiman, di klaim bahwa Mubes Tumanggong yang dilaksanakan disebutkan dihadiri oleh seluruh pengurus DAD Kecamatan, padahal hanya 4 DAD Kecamatan yang hadir.<br /><br />“Hanya DAD Kecamatan Sintang, Serawai, Ambalau dan Ketungau Tengah saja yang hadir. Makanya Mubes tersebut langsung digiring ke arah Musdat. Pernyataan bahwa Temenggung  dan DAD kecamatan yang memberhentikan saya adalah tidak benar, karena ada pernyataan sikap yang dibuat oleh ketua DAD Kecamatan yang menolak Abeng sebagai ketua DAD Kab.Sintang. Jadi jelaslah semua itu hanyalah rekayasa,” tegasnya.<br /><br />Askiman juga menjelaskan terkait dengan tuduhan yang dialamat kepadanya, yang disebutkan sebagai penghambat kegiatan Gawai serta memprovokasi Bupati Sintang dengan menyurati agar tidak mencairkan dana Gawai.<br /><br />“Perlu diluruskan bahwa tidak ada upaya dari pihak manapun yang melarang seluruh masyarakat adat untuk menghadiri gawai. Persoalan adanya larangan dari Bupati Sintang untuk melarang Camat, karena tidak ada sejarahnya Camat jadi ketua Kontingen. Sebab, itu adalah kewenangan DAD Kecamatan. Hirarki Camat adalah ke Bupati, artinya Bupatilah yang berhak memerintahkan Camat. Kemudian soal saya dianggap menghambat pencairan dana, itu terkait keuangan masa lalu. Penggunaan dana 150 juta hingga kini belum ada pertanggungjawaban yang kuat. Ya…soal SPJ pendistribusian dana memang ada, akan tetapi atas penggunaan dana tersebut yang tidak ada,” jelas Askiman.<br /><br />Diungkapkan juga oleh Askiman perihal dengan pernyataan Abeng bahwa Hibah keuangan (bantuan sosial) untuk Gawai Dayak tanggal 18-19 Juli 2012 sudah cair, padahal Bupati Sintang sebelumnya menyatakan melarang untuk mencairkan dana tersebut di Bank Kalbar.<br /><br />“Itu memang benar, tapi persoalannya ada campur tangan dari Wakil Bupati Sintang yang memanggil serta membawa Kepala DPPKA menghadap Pimpinan Bank Kalbar Sintang guna mencairkan uang. Padahal Wakil Bupati tidak memiliki otoritas terhadap anggaran,” kata Askiman.<br /><br />Askiman juga menilai seharusnya Mikael Abeng selaku Ketua DAD harus mampu menunjukkan jati dirinya dalam bertutur kata dan bertingkah laku agar bisa menjadi panutan masyarakat,  serta juga cara bergaul yang mencerminkan norma adat.<br /><br />“Lihat saja bagaimana beliau bertutur bahasa saat memberikan sambutan pada pembukaan gawai dayak. Itu adalah sambutan yang tidak menjunjung tinggi norma adat yang berlaku. Namun ini semua tentunya masyarakat luas yang menilai, siapa diri kita yang sesungguhnya. Karena sambutan itu diperdengarkan oleh seluruh masyarakat dari berbagai komponen bangsa yang ada di Sintang. Dan perlu masyarakat Dayak ketahui, selama masa periode kepemimpinan Mikael Abeng mulai 2008, beliau tidak pernah melakukan pembinaan terhadap masyarakat adat, mulai dari tingkat kecamatan sampai ke desa-desa,” ungkap Askiman.<br /><br />Askiman juga meminta kepada pengurus DAD Provinsi Kalimantan Barat agar dapat menilai dan bersikap atas pidato yang disampaikan oleh Ketua DAD Sintang Mikael Abeng dan Ketua Panitia Gawai Dayak Yosef Nikolas yang disampaikan pada Pembukaan Gawai Dayak tanggal 18 Juli 2012 di Gedung Serbaguna.<br /><br />“Harus sesuai dengan salah satu kata dalam falsafah yang sering diucapkan yakni Adil Ka`talino atau bersikap adil terhadap sesama manusia,” pintanya.<br /><br />Sementara terkait dengan kabar akan adanya Gawai yang akan diselenggarakan tanggal 28 Juli 2012 di Sintang, Askiman menegaskan jika yang akan dilaksanakan itu bukanlah gawai seperti yang sudah dilakukan belum lama ini.<br /><br />“Itu gawai Ibanik Group yang ada di 12 kecamatan yang merupakan sub suku mayoritas. Jadi tak ada yang salah jika itu ingin dilaksanakan, ataupun ada yang melarang. Kalau itu dianggap salah, bagaimana dengan gawai-gawai skala kecil yang dilaksanakan selama ini? Yang jelas gawai itu tak ada kaitan dengan DAD ataupun sebagai Gawai Dayak tandingan!” tegasnya.<br /><br />Diakhir wawancara, Askiman menyatakan dirinya tetap akan keluar dari DAD Kabupaten Sintang jika masih dipegang oleh Mikael Abeng.<br /><br />“Tak perlu repot-repot memberhentikan saya, tidak diberhentikanpun saya tetap akan  mundur, karena saya  menilai kepengurusan selama tidak beradat!” pungkasnya. <strong>(*)</strong></p>