Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, penguatan rupiah dapat mengancam kelangsungan industri mebel dan kerajinan nasional bila tidak ada intervensi pemerintah. <p style="text-align: justify;">Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, penguatan rupiah dapat mengancam kelangsungan industri mebel dan kerajinan nasional bila tidak ada intervensi pemerintah.<br /><br />"Penguatan rupiah dari Rp10.000 menjadi Rp8.600 betul-betul membuat eksportir mebel dan kerajinan menjadi cukup sulit," kata Ambar di Jakarta, Kamis.<br /><br />Menurut dia, penguatan tersebut menjadikan produk Indopnesia tidak mampu bersaing dengan produk negara pesaing yang juga mengakibatkan banjirnya impor barang-barang dari China.<br /><br />Ia juga mengemukakan, bila dunia usaja ingin mendapatkan laba maka mereka harus menaikkan harga tetapi hal itu dapat membuat para pembeli internasional akan mencari ke negara lain yang harganya lebih murah.<br /><br />Selain itu, ia juga menyesalkan suku bunga bank yang saat ini tetap berada di atas 13 persen /tahun sedangkan bunga dari deposito rata-rata hanya tujuh persen sehingga keuntungan yang didapat dari perbankan hampir 100 persen.<br /><br />"Kalau begini caranya yang bisa berbisnis hanya bank," katanya.<br /><br />Ia juga mengatakan, bila penguatan rupiah mencapai Rp8.000 maka dipastikan industri mebel/kerajinan serta industri lainnya yang bergantung kepada ekspor akan bertumbangan.<br /><br />Hal tersebut juga berakibat pada terancamnya tidak tercapainya target ekspor industri mebel/kerajinan yang diperkirakan akan mencapai tiga juta dolar AS pada 2011.<br /><br />Untuk itu, Ambar mengutarakan harapannya agar pemerintah dapat melakukan intervensi finansial sehingga penguatan rupiah dapat terjaga.<br /><br />Asmindo menginginkan agar nilai tukar rupiah dan dolar AS stabil pada Rp9.500 sedangkan, bila nilai tukarnya Rp9.000 dinilai sudah cukup bagus.<br /><br />Ambar mengaku sudah menyampaikan keluhan ini ke Bank Indonesia dan dalam waktu dekat juga akan membahas permasalahan ini dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan<br /><br />"Penguatan rupiah dari Rp10.000 menjadi Rp8.600 betul-betul membuat eksportir mebel dan kerajinan menjadi cukup sulit," kata Ambar di Jakarta, Kamis.<br /><br />Menurut dia, penguatan tersebut menjadikan produk Indopnesia tidak mampu bersaing dengan produk negara pesaing yang juga mengakibatkan banjirnya impor barang-barang dari China.<br /><br />Ia juga mengemukakan, bila dunia usaja ingin mendapatkan laba maka mereka harus menaikkan harga tetapi hal itu dapat membuat para pembeli internasional akan mencari ke negara lain yang harganya lebih murah.<br /><br />Selain itu, ia juga menyesalkan suku bunga bank yang saat ini tetap berada di atas 13 persen /tahun sedangkan bunga dari deposito rata-rata hanya tujuh persen sehingga keuntungan yang didapat dari perbankan hampir 100 persen.<br /><br />"Kalau begini caranya yang bisa berbisnis hanya bank," katanya.<br /><br />Ia juga mengatakan, bila penguatan rupiah mencapai Rp8.000 maka dipastikan industri mebel/kerajinan serta industri lainnya yang bergantung kepada ekspor akan bertumbangan.<br /><br />Hal tersebut juga berakibat pada terancamnya tidak tercapainya target ekspor industri mebel/kerajinan yang diperkirakan akan mencapai tiga juta dolar AS pada 2011.<br /><br />Untuk itu, Ambar mengutarakan harapannya agar pemerintah dapat melakukan intervensi finansial sehingga penguatan rupiah dapat terjaga.<br /><br />Asmindo menginginkan agar nilai tukar rupiah dan dolar AS stabil pada Rp9.500 sedangkan, bila nilai tukarnya Rp9.000 dinilai sudah cukup bagus.<br /><br />Ambar mengaku sudah menyampaikan keluhan ini ke Bank Indonesia dan dalam waktu dekat juga akan membahas permasalahan ini dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. (Eka/Ant)</p>














