Ayam Kampung Naik Hingga Rp75 Ribu Per Kilo

oleh
oleh

Harga ayam kampung di sejumlah pasar tradisional kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, naik hingga Rp65 ribu hingga Rp75 ribu perkilo. <p style="text-align: justify;">"Saat ini musim sembahyang kubur agama Kung Hu Chu, makanya kita menaikkan harga. Karena permintaan ayam kampung saat ini sangat banyak, sementara untuk mendapatkannya lumayan sulit, itu yang membuat pedagang menaikkan harga ayam kampung," kata Fahmi, penjual ayam di pasar Parit Baru, Kecamatan sungai Raya, Minggu.<br /><br />Menurutnya, kenaikan harga ayam tersebut sudah terjadi sejak satu minggu lalu. Jika pada hari biasa harga perkilo ayam kampung hanya Rp35 ribu. Namun sejak satu minggu lalu berangsur naik dengan kisaran Rp50 ribu sampai Rp65 ribu.<br /><br />"Sejak tiga hari yang lalu, harganya semakin naik dan sekarang saya jual Rp70 ribu," katanya.<br /><br />Demikian dengan Sugimin, yang juga menjual ayam kampung di pasar Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya. Warga Desa Rasau Jaya I, Kecamatan Rasau Jaya itu mengatakan, dia dan pedagang lainnya di pasar tersebut menjual ayam kampung dengan kisaran harga Rp65 ribu hingga Rp75 ribu.<br /><br />"Sejak masyarakat Tionghua menggelar ritual sembahyang kubur, harga ayam kampung drastis naik. Lumayan kita bisa untuk sampai dua kali lipat, karena dijual mahalpun, masih banyak yang mau beli," tuturnya.<br /><br />Di saat harga ayam kampung tinggi, harga ayam potong justru lebih murah dibanding saat menjelang puasa.<br /><br />"Harga ayam potong di sini sudah turun, karena saat akan pausa harganya Rp28 sampai Rp30 ribu. Sekarang hanya Rp26 ribu, namun saat lebaran nanti biasanya harganya kembali naik," kata Astuti, pedagang ayam potong di Pasar kuala Dua.<br /><br />Setiap tanggal 1-15 bulan ke-7 Imlek, warga Tionghoa di Kalimantan Barat melaksanakan ritual sembahyang Cung Yuang atau Shi Ku. Saat sembahyang, mereka menyediakan persembahan seperti buah-buahan dan ayam kampung sebagai sajiannya.<br /><br />"Tradisi ritual sembahyang kubur dilaksanakan setahun dua kali. mulai Minggu (31/7) lalu hingga tanggal 14 Agustus nanti," kata tokoh masyarakat Tiong Hua Kecamatan Sungai Raya, Johanes Tjan Tjin Hua.<br /><br />Menurutnya, saat ritual sembahyang kubur, Kecamatan Sungai Raya menjadi salah satu tujuan ziarah yang banyak di kunjungi. Pasalnya, di kecamatan tersebut banyak terdapat tempat pemakaman masyarakat Tionghua.<br /><br />"Di Sungai Raya ada enam yayasan pemakaman, yakni Yayasan Halim, Yayasan Makmur, Yayasan Sungai Jernih, Yayasan Surya Makmur, Yayasan Tanjung Harapan, dan Yayasan Nilam," tuturnya.<br /><br />Yohanes mengatakan, tradisi sembahyang kubur kali ini merupakan yang kedua dalam tahun ini, menurut penanggalan Imlek setiap tahunnya dilaksanakan pada tanggal 1-15 bulan 7 Imlek yang juga disebut dengan sebutan ritual Cung Yuan atau Shi Ku.<br /><br />Menurutnya, sembahyang kubur Cung Yuan dilakukan sebagian etnis Tionghoa yang menganut ajaran Buddha, Taoisme, Khonghucu, serta lainnya.<br /><br />Hari terakhir sembahyang Cung Yuan dilakukan upacara penutupan perebutan yang dinamakan Yi Lan Sen Hui. Sementara pada acara puncaknya dilakukan pembakaran kapal kertas (Jong Son) yang berisi segala kebutuhan sehari-hari di dunia fana.<br /><br />Baik yang terbuat dari kertas, maupun dari acara Yi Lan Sen Hui yakni dari persembahan sembahyang seperti buah-buahan, nenas, keladi, umbi, sayur-sayuran dan sebagainya.<br /><br />"Tujuan pembakaran sampan itu untuk membubarkan secara halus roh para leluhur dan menandai berakhirnya Yi Lan sen Hui/Shi Ku yang telah disediakan sepanjang hari tanggal 15 bulan 7 Imlek. Supaya roh kembali ke tempat asal masing-masing dengan tenang dan damai serta dengan harapan akan berkumpul kembali tahun yang akan datang," kata Yohanes, yang juga anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya.<strong> (das/ant)</strong></p>