Ayuni, Bayi Penderita Celah Bibir Butuh Bantuan

oleh

Memiliki buah hati, adalah dambaan setiap keluarga sebagai penerus keturunan. Apalagi buah hati tersebut adalah anak pertama yang akan membuat bahagia semua pasangan. <p style="text-align: justify;">Tapi kebahagiaan tersebut belum dapat dirasakan pasangan Theodorus dan Mardona asal desa Merah Arai, Kayan hulu.<br /><br />Pasangan keluarga muda ini harus mendapatkan kenyataan, anak pertama yang sangat mereka dambakan lahir dalam kondisi yang memprihatinkan.<br /><br />Menurut Mardona, anak pertama mereka lahir dengan kondisi cacat seperti sumbing, mulai dari bibir atas hingga kebagian sudut mata.<br /><br />“Saya sedih dan syok setelah melihat kondisi anak pertama kami,” ungkapnya saat ditemui wartawan di RSUD Ade M Joen, Jumat (16/12/2011).<br /><br />Di jelaskan, selama masa kehamilan dirinya mengaku rajin memeriksakan kandungannya dengan bidan di desa.<br /><br />“Kalau mau ke kecamatan terlalu jauh bisa 1 hari perjalanan, jadi saya periksa ke bidan saja,”ungkapnya.<br /><br />Selama pemeriksaan, lanjutnya kondisi kandungan baik dan tidak ada masalah apapun.<br /><br />“Semua baik-baik saja bahkan kata bidan tak ada masalah apapun,”tambahnya.<br /><br />Bayi yang akhirnya diberi nama Theresia Ayuni Chandra ini mendapatkan perawatan intensif diruang Perinatologi.<br /><br />“Kami baru tiba di Sintang semalam, dan hari ini katanya akan dilakukan pemeriksaan dokter,” tambah suami Mardona, Theodorus.<br /><br />Theodorus menambahkan, ia dan isterinya meskipun terpukul dengan kondisi anaknya, namun tetap pasrah dan menerima keadaan tersebut. <br /><img src="../../data/foto/imagebank/20111216040046_917110A.jpg" alt="" width="300" height="232" />  <img src="../../data/foto/imagebank/20111216040109_5AB2401.jpg" alt="" width="290" height="232" /><br />“Hanya saja saya tidak tahu berapa biaya yang akan kami keluarkan untuk dapat menolong anak kami. Pekerjaan saya yang hanya penyadap karet dengan penghasilan yang pas buat makan mana mungkin mampu untuk operasi atau perawatan lainnya,” ungkapnya.<br /><br />Dirinya mengharapkan ada pihak yang mau membantu keluarganya, meskipun saat ini dirinya tengah mengurus SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu).<br /><br />Sementara itu, dokter spesialis anak RSUD Ade M Joen, dr.Fuad saat dihubungi menjelaskan jika hal tersebut adalah bawaan dari lahir (Congenital) dan masih dapat diperbaiki setelah anak berusia 2 bulan.<br /><br />“Masih bisa diatasi, nanti setelah anak berusia 2 bulan dengan berat badan sudah mencapai 6 kg kita akan lakukan operasi,” ujar dokter Fuad.<br /><br />Operasi, lanjutnya tidak hanya dilakukan satu kali itu saja, namun akan diteruskan ketika anak memasuki usia 1 tahun dan seterusnya. Terkait dengan pemberian ASI kepada bayi, dijelaskan ASI akan diberikan melalui pipa yang dihubungkan ke hidung bayi.<br /><br />“Itu untuk menghindari bayi kesulitan dalam menerima ASI. Makanya kita salurkan melalui pipa yang dipasang dihidung bayi,” jelasnya.<br /><br />Untuk jenis sumbing yang dialami anak pasangan Theodorus dan Mardona ini memang digolongkan yang agak parah yang dalam bahasa kedokteran disebut sebagai labiogenato palato schisis.<br /><br />Dijelaskan, Celah bibir dan langit merupakan kelainan congenital (bawaan sejak lahir) yang banyak dijumpai. Kelainan celah bibir dapat menyebabkan gangguan pada fungsi bicara, pengunyahan dan penelanan serta estetik dan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan. <br /><br />Berbeda dengan celah bibir, celah langit-langit atau palatoschisis merupakan suatu kelainan yang sering terjadi bersamaan dengan celah bibir dan alveolar, atau dapat tanpa kelainan lainnya. Pada kelainan ini dapat terjadi gangguan pada proses penelanan, bicara dan mudah terjadi infeksi saluran pernafasan akibat tidak adanya pembatas antara rongga mulut dan rongga hidung. Infeksi juga dapat berkembang ke telinga.<strong> (*)</strong></p>