Balikpapan Tarik Obat Batuk Dextromethorpan Dari Pasaran

oleh

Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Kalimantan Timur memastikan telah menarik seluruh obat batuk yang mengandung zat aktif "dextromethorphan" (DMP) dari pasaran di daerah itu. <p style="text-align: justify;">"Semua obat batuk itu mulai kami tarik sejak awal 2014 dari apotek, toko obat, hingga puskesmas-puskesmas," kata Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan drg Dyah Muryani, di Balikpapan, Kamis.<br /><br />Ia mengatakan, penarikan atas peredaran dextromethorphane dimulai berbarengan dengan dikeluarkannya larangan meminum obat-obat yang mengandung zat aktif tersebut.<br /><br />Dia mengatakan, meskipun ada dalam bentuk murni, DMP yang dijual bebas biasanya sudah dikombinasikan dengan zat-zat lain. Dalam satu tablet DMP juga ada parasetamol (antinyeri antidemam), CTM (antihistamin atau antialergi), pseudoefedrin atau fenilpropanolamin (dekongestan atau pelega hidung tersumbat), atau guafenesin (eskpektoran atau pengencer dahak).<br /><br />Menurut dia, DMP berperan menekan batuk akibat iritasi tenggorokan dan saluran napas bronkhial (percabangan saluran napas yang ke paru-paru), terutama pada kasus batuk pilek.<br /><br />"Jadi obat itu bekerja sentral, langsung pada pusat batuk di otak. DMP menaikkan ambang batas rangsang batuk," kata Dyah.<br /><br />Dengan ambang batas rangsang batuk yang lebih tinggi dari orang yang sehat, menyebabkan penderita yang sedang mengonsumsi DMP susah batuk. Atau batuknya "sembuh" sampai mekanisme pertahanan tubuhnya berhasil melawan penyebab batuknya.<br /><br />Untuk mengusir batuk, dosis yang dianjurkan adalah 15 mg sampai 30 mg yang diminum 3 kali sehari. Dengan dosis sebesar ini, DMP relatif aman dan efek samping jarang terjadi.<br /><br />Namun demikian, belakangan ditemukan bahwa obat itu justru dikonsumsi melebihi daripada dosisnya untuk mendapatkan efek "high" atau perasaan melayang dan bahagia dan terus menerus terjaga.<br /><br />"Karena harganya yang murah, mudah didapat, dan tidak diperlukan resep dokter, obat ini dapat dibeli banyak tanpa pengawasan.<br /><br />Bentuk penyalahgunaannya adalah dikonsumsi dalam dosis tinggi (berpuluh-puluh butir), atau meminumnya bersama alkohol atau narkoba," katanya.<br /><br />Menurut dia, saat "overdosis" itulah terjadi berbagai macam efek samping. Terjadi stimulasi ringan pada konsumsi sebesar 100 – 200 mg, euforia dan halusinasi pada dosis 200 – 400 mg, gangguan penglihatan dan hilangnya koordinasi gerak tubuh pada dosis 300 – 600 mg, dan terjadi sedasi disosiatif (perasaan bahwa jiwa dan raga berpisah) pada dosis 500 – 1500 mg.<br /><br />Gejala lain, kata dia, adalah yang terjadi akibat overdosis DMP, adalah bicara kacau, gangguan berjalan, gampang tersinggung, berkeringat, dan bola mata berputar-putar atau nistagmus.<br /><br />Penyalahgunaan tablet yang sudah dikombinasikan tersebut malah berdampak lebih parah. Komplikasi yang timbul dapat berupa peningkatan tekanan darah karena keracunan "pseudoefedrin", kerusakan hati karena keracunan parasetamol, gangguan saraf dan sistim kardiovaskuler akibat keracunan CTM.<br /><br />"Alkohol atau narkotika lain yang ditelan bersama DMP dapat meningkatkan efek keracunan dan bahkan menimbulkan kematian. Makanya sekarang tidak kita gunakan lagi obat itu, terutama karena sangat mudah disalahgunakan," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>