Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi menyatakan, Bank Dunia kembali memberikan batas waktu hingga 2012 kepada PT Gikoko Kogyo Indonesia agar secepatnya menghasilkan gas metana sesuai standar sertifikat bebas emisi. <p style="text-align: justify;">"Hari ini perwakilan dari Bank Dunia berkunjung ke Pemerintah Kota Pontianak dan PT Gikoko Kogyo Indonesia terkait belum berjalannya proyek ‘Clean Development Mechanism’ (CDM) atau mekanisme pembangunan bersih di tempat pembuangan akhir Batu Layang," kata Paryadi di Pontianak, Rabu.<br /><br />Ia menjelaskan, adanya "deadline" itu karena sejak berdirinya proyek tersebut tahun 2007 hingga saat ini belum menghasilkan gas metana (CH4) sesuai "Certified Emissions Reductions" (CER).<br /><br />Padahal Pemerintah Belanda sudah menyampaikan keinginannya untuk membeli sebanyak 350 ribu sertifikat bebas emisi ke PT Gikoko Kogyo sejak tahun 2007, tetapi terkendala teknis hingga sekarang karena masih belum berproduksi.<br /><br />"Sudah empat tahun proyek itu dibangun kerja sama Pemkot Pontianak dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia tetapi belum menghasilkan sertifikat bebas emisi karena faktor cuaca dan tanah gambut yang labil," ujarnya.<br /><br />Banyaknya curah hujan membuat lokasi TPA Batu Layang menjadi mudah tergenang air sehingga menyebabkan pipa-pipa sebagai saluran gas metana ke mesin pengolah menjadi terganggu sehingga gas metana yang dihasilkan menjadi tidak menentu.<br /><br />"Selain itu faktor labilnya tanah di sekitar TPA Batu Layang juga mempengaruhi tinggi rendahnya produksi gas metana dari sampah yang sudah dikelola tersebut," kata Paryadi.<br /><br />Wakil Wali Kota Pontianak menambahkan, terkait masih belum produksinya proyek CDM itu pihaknya akan melakukan evaluasi kerja sama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia.<br /><br />Implementasi proyek pembakaran metana di TPA Batu Layang, Pontianak, akan menghasilkan pengurangan sekitar 1,5 juta ton ekuivalen Karbon Dioksida (CO2) selama masa berlangsungnya proyek tersebut yakni sekitar 21 tahun.<br /><br />Paryadi menjelaskan, selain memberi keuntungan global, proyek tersebut diharapkan memberi kegunaan untuk TPA dan pengelolaan limbah-limbah padat di kota-kota.<br /><br />Sementara itu, Staf Bidang Lingkungan Bank Dunia Ina Pranoto mengatakan, sebagai calon pembeli sertifikat bebas emisi tentunya pihaknya sudah menunggu lama berjalannya proyek mekanisme pembangunan bersih di tempat pembuangan akhir Batu Layang.<br /><br />"Keinginan membeli sertifikat itu belum juga terwujud karena proyek tersebut belum berjalan akibat kondisi cuaca dan struktur tanah gambut," katanya.<br /><br />Ia menjelaskan, sebenarnya yang membeli sertifikat bebas emisi itu ada pihak ketiga atau negara donor Bank Dunia sebagai penghubung.<br /><br />Ia berharap, proyek CDM itu segera berjalan sehingga tidak mubazir. "Di Indonesia ada tiga proyek CDM, salah satunya di Pontianak, dua lainnya sudah menghasikan gas emisi," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>














