Bantuan Krisis Pangan, Belum Dapat Disalurkan

oleh

Bencana krisis pangan yang terjadi di beberapa desa yang berada di penghuluan sungai pinoh seperti di Sokan dan Tanah Pinoh barat. terus menanti bantuan dari pemerintah. Namun hingga saat ini pemerintah belum ada menyalurkan bantuan kepada masyarakat. <p style="text-align: justify;">Sekretaris Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Melawi, H. Dalyudi mengatakan, pihak pemerintah sebelumnya tidak tau persoalan itu. sebab tidak ada surat sepucuk pun dan tidak ada laporan dari kades maupun kecamatan sokan. <br /><br />“Kami baru tau setelah baca koran. Jadi bagaimana kami mau segera menyalurkan bantuan kalau surat saja tidak ada disampaikan ke kami. namun setelah membaca koran itu, kami menindak lanjutinya dengan berkoordinasi dengan pihak BPBD agar pihak BPBD bisa menyampaikannya ke PJ Bupati untuk ditetapkan sebagai status bencana,” ungkap Dalyudi ditemui di ruangan kerjanya Kamis (8/10/2015).<br /><br />Pihak Dinsosnakertrans Melawi belum bisa menyalurkan bantuan bukan karena tidak memiliki stok beras banstuan sosial, namun statusnya yang bersifat bencana. Maka harus berkoordinasi dulu dengan pihak BPBD.<br /><br />“Sebab kondisi bencana seperti ini itu harus dikoordinasikan dengan pihak Badan Penanggunalan Bencana Daerah (BPBD) Melawi. dan status bencana ini juga harus ditetapkan oleh Penjabat Bupati dulu baru bantuan bisa disalurkan,” katanya saat ditemui di ruangan kerjanya, Kamis (8/10).<br /><br />setelah penetapan status bencana krisis pangan di Sokan sudah ditetapkan, maka BPBD akan berkoordinasi dengan pihak instansi yang terkait.<br /><br />”Setelah itu barulah kita salurkan bantuannya ke sana. Jika statusnya tidak bencana krisis pangan sih, kami bisa lansung menyalurkannya tanpa koordinasi dengan pihak BPBD,” katanya.<br /><br />Untuk stok bantuan beras pemerintah di Dinsosnakertrans, masih ada sekitar 7 ton. Bantuan tersebut yang nantinya akan di salurkan ke Desa Penyangkuang. <br /><br />“Jika stok itu tidak cukup, maka akan kita ajukan lagi ke Bulog,” paparnya.<br /><br />sebelumnya, diberitakan bahwa krisis pangan melanda Dusun saka II Desa Penyangkuang Kecamatan Sokan yang disampaikan Iif Usfayadi, Wakil Ketua DPRD Melawi. Ia mengatakan, masyarakat di Dusun Saka II saat ini sudah sangat mengalami krisis pangan sampai-sampai warga di sana mengkonsumsi beras dicampur dengan gadung.<br /><br />“Di Saka II desa Penyangkuang Beras yang mereka masak dicampur dengan gadung agar banyak. Gadung ini merupakan umbi-umbian yang digunakan masyarakat pedalaman untuk mencampur karet dulunya. Namun saat krisis pangan melanda mereka, terpaksa gadung untuk menambah makanan mereja. Bahkan ada yang tidak makan dua sampai 3 hari,” katanya ditemui di DPRD Melawi.<br /><br />Dengan munculnya persoalan itu, IIf berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah. Seperti menyalurkan beras bantuan bencana ke Desa Penyangkuang  tersebut. “Pemerintah juga harus memantau desa-desa lainhya di pedalaman, tidak menutup kemungkinan juga mengalami hal yang sama,” ungkapnya.<br /><br />Krisis pangan yang terjadi di Desa Penyangkuang tersebut merupakan dampak dari kemarau yang berkepanjangan di Melawi ini. Sehingga akses transportasi utama yakni jalur sungai, tidak bisa dilalui. Bahkan untuk bersawah warga disana kesulitan karena kekurangan air, ini harus segera diatasi, ucapnya.<br /><br />Sementara di Kecamatan tanah Pinoh Barat juga mengalami hal yang hamper serupa. Seperti yang disampaikan Nur Ilham, Anggota DPRD Melawi. Di Desa Keluas Hulu dan Mahikam, harga beras disana sudah mencapai Rp. 20 ribu per kilogram.<br /><br />“Beras yang harganya Rp. 20 ribu per kilogram itu bukan beras mahal, itu beras yang sangat murah bila di Nanga Pinoh. Hal itu karena akases untuk mencapai ke Desa Mahikam dan Desa Keluas tidak bisa dilalui karena kemarau yang membuat sungai kering,” katanya.<br /><br />Bahkan, lanjut Ilham, beras yang dijual ke dua desa tersebut, belum sampai ke desa, baru sampai di sungai saja sudah habis dibeli warga. <br /><br />“Beras yang baru datang untuk dijual ke warga, tidak sampai kampung. Di pinggir sungai warga sudah menunggu untuk membelinya,” ungkapnya.<br /><br />Ilham mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini selain karena musim kemarau berkepanjangan terjadi, juga karena tidak adanya akses jalan menuju ke desa tersebut. <br /><br />“Selama ini masyarakat hanya menggunakan jalur sungai saja. Jika kemarau tiba, maka harga sembako disana akan sangat mahal,” ucapnya.<br /><br />Untuk itu, Ilham berharap pemerintah bisa memperhatikan desa-desa yang terancam krisis pangan tersebut, dengan menyuplai makanan berpa bantuan social. “Kita haraokan pemerintah bisa segera memperhatikannya,” katanya.<br /><br />Ilham juga berharap, kedepannya pemerintah bisa membangun akases jalan jalur darat, agar roda perekonomian masyarakat disana menjadi lebih baik. <br /><br />“Kalau jalur sungai ini tergantung musim. Kalau musim kemarau akan terhambat, sementara jalur arat tidak ada,” pungkasnya. (KN)</p>