Barito Kuala Perluas Sawah Panen Dua Kali

oleh

Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, berupaya memperluas sawah yang dapat panen padi dua kali dalam setahun menjadi sekitar 30.000 hektare dari saat ini hanya 3.500 hektare. <p style="text-align: justify;">"Saat ini baru 3.500 hektare sawah di Barito Kuala yang bisa panen dua kali dalam setahun," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Barito Kuala, Zulkifli Yadi Noor di Barito Kuala, Kamis.<br /><br />Ia menyebutkan luas lahan sawah di daerah itu saat ini mencapai sekitar 99.000 hektare.<br /><br />Menurut dia, sebagai salah satu daerah penyumbang stok pangan di Kalimantan Selatan, Barito Kuala bertekad meningkatkan produksi beras hingga beberapa persen melalui beberapa langkah strategis.<br /><br />Zulkifli mengemukakan kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah adalah budaya petani lokal yang cepat puas, merasa cukup dengan apa yang sudah diperoleh.<br /><br />"Petani kita sudah merasa cukup, dan tidak perlu kerja keras lagi apabila di rumah sudah tersedia padi cukup untuk makan satu tahun, cukup untuk selamatan," ujarnya.<br /><br />Selain budaya, tingginya modal bertani juga menjadi salah satu penyebab petani kurang bersemangat untuk menanam padi dua kali setahun.<br /><br />Menurut dia, tugas pemerintah, terutama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan saat ini adalah meningkatkan semangat para petani untuk bisa bekerja lebih giat agar kesejahteraan lebih baik.<br /><br />Salah satunya adalah memberikan bantuan traktor tangan 100 unit per tahun, mesin perontok padi dan mesin pemanen plus perontok.<br /><br />"Kami menargetkan dalam lima tahun kedepan bisa memberikan bantuan traktor tangan kepada petani hingga 500 unit, untuk mendorong semangat petani dalam meningkatkan kesejahteraanya," kata Bupati Barito Kuala Hasanuddin Murad.<br /><br />Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, dengan cara manual petani Barito Kuala harus mengeluarkan modal tanam hingga panen sekitar Rp8,9 juta per hektare.<br /><br />Tetapi dengan bantuan traktor tangan, mesin perontok atau mesin pemanan plus perontok, petani bisa menghemat modal hingga kisaran Rp4,4 juta per hektare, dari Rp8,9 menjadi Rp4,5 juta per hektare.<br /><br />"Dengan asumsi hasil panen 3,4 ton per hektare, harga standar, sekitar Rp60 ribu per blak, petani kita akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari biasanya," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>