Barut Teliti Kualitas Air Pedalaman Sungai Barito

oleh

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah pada Oktober 2011 kembali melakukan penelitian kualitas sejumlah baku mutu air di sejumlah sungai dan kualitas udara. <p style="text-align: justify;">"Pengujian terhadap paremeter kualitas air ini sebagai acuan dan informasi kondisi lingkungan di daerah ini apakah tingkat pencemarannya masih wajar atau tidak," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Barito Utara (Barut), Muhlis di Muara Teweh, Selasa.<br /><br />Muhlis mengatakan penelitian kualitas air saat musim hujan atau air sungai naik tersebut dilakukan di sejumlah titik kawasan pedalaman Sungai Barito dan anak sungainya meliputi Sungai Teweh, Sungai Lahei dan Sungai Montallat.<br /><br />Untuk kawasan Sungai Barito, kata dia, dilakukan pengambilan sampel air di wilayah hulu yakni di Kecamatan Lahei, kemudian di bagian tengah di Muara Teweh dan hilir di Kecamatan Montallat.<br /><br />"Pengujian kualitas air pada saat musim kemarau atau sungai surut sudah dilakukan pada Juni 2011 yang hasilnya masih dalam data mentah belum bisa ditafsirkan, namun kandungan merkuri (Hg) nihil," kata Muhlis didampingi Kepala UPTB Laboratorium Lingkungan Hidup, Akhmad Rizalie.<br /><br />Muhlis menjelaskan, dalam pemeriksaan sampel air dan kualitas limbah tersebut sejak tahun 2010 telah dilakukan sendiri yakni dengan difungsikannya unit pelakana teknis badan (UPTB) laboratorium milik pemerintah daerah sehingga tidak perlu keluar daerah lagi.<br /><br />"Laboratorium ini juga dapat dimanfaatkan sejumlah kabupaten di daerah aliran sungai (DAS) Barito lainnya untuk memeriksa uji sampel mereka," jelas dia.<br /><br />Muhlis mengatakan, air pedalaman Sungai Barito di wilayah Kalimantan Tengah hingga saat ini masih menjadi bahan baku air PDAM di Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara dan beberapa kabupaten lainnya.<br /><br />Namun saat ini kualitas air sungai sudah tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi langsung atau masih tercemar ringan dengan kategori sesuai polutan indeks (PI) yakni bisa dikonsumsi asal dengan pengolahan di antaranya direbus dulu atau disimpan di penampungan guna menurunkan tingkat kekeruhan.<br /><br />"Jadi kualitas bahan baku air di daerah ini tidak memenuhi syarat, namun masih dalam tahap toleransi atau harus diolah dulu," jelas dia.<br /><br />Sungai Barito mengalir dari hulu di pedalaman Kalimantan Tengah dan bermuara di Kalimantan Selatan sepanjang 900 kilometer. Ketika air sungai naik atau hujan, tingkat kekeruhan sangat tinggi, namun kandungan bahan kimia dan logam cenderung turun.<br /><br />Sebaliknya ketika debit air sungai surut atau kemarau tingkat kekeruhan rendah sedangkan kandungan bahan berbahaya bagi kesehatan relatif tinggi.<br /><br />"Hasil pengujian air Sungai Barito dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa kandungan bahan kimia yang berbahaya seperti merkuri tak terdeteksi, mungkin masih ada namun turun atau di bawah baku mutu," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>