Batu Bertulis Dusun Pait, Menyimpan Sejuta Misteri

oleh

Sebuah batu besar berukuran berbentuk segitiga dengan tinggi 6 meter dan lebar 5 meter berdiri kokoh disebelah kiri jalan masuk di Dusun Pait, Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap. <p style="text-align: justify;">Di bagian muka batu tersebut terdapat pahatan berupa simbol-simbol yang belum dapat diungkapkan. Symbol itu, bak keris raksasa berjejer sebanyak 8 buah. Dalam setiap symbol terdapat tulisan yang susah diartikan atau ditejermahkan bahkan masih menjadi Misteri. <br /><br />Ada delapan pahatan yang bentuknya menyerupai wujud dewa. Anehnya, pahatan keempat dari kiri berbentuk terbalik dengan posisi kepala menghadap kebawah. Di masing-masing pahatan terukir tulisan-tulisan ayat suci yang pernah diteliti dari Profesor dari Nusantara dan Mancanegara. Bahkan kabarnya sudah diteliti dari professor asal Negeri Kincir angin, Belanda. <br /><br />Kondisi Batu Bertulis masih terawat dan terjaga. Di beberapa bagian batu sudah tampak gerusan akibat faktor alam. Meski demikian, tulisan dan ukiran pada batu tersebut masih utuh.. Disana dipasang sebuah bangunan beratap permanen dilengkapi dengan fasilitas toilet dan seorang juru kunci. <br /><br />F. Apong (60) adalah juru rawat Batu bertulis Dusun Pait. Menurut Apong, usia tulisan pada Batu Bertulis sudah hampir berusia 700 tahun. <br /><br />“Pak Sukarto dari IKIP mengatakan tulisan ini diperkirakan dibuat tahun 1350 masehi atau lebih 700 tahun,” kata Apong.<br /><br />Hampir semua masyarakat Kabupaten Sekadau sudah familiar dengan nama Batu Bertulis yang berlokasi di Dusun Pait, Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap. Tak hanya masyarakat lokal, di tingkat nasional bahkan internasional pun Batu Bertulis sudah cukup dikenal.<br /><br />Menurut F. Apong, Batu Bertulis merupakan sebuah prasasti peninggalan kebudayaan Budha. Dikenal dari penulisan huruf-huruf yang tertera di batu tersebut yang menggunakan huruf Palawa dan menggunakan bahasa Sanskerta.<br /><br />Pada tahun 1985, salah satu dosen dan juga peneliti IKIP Sanata Dharma, yakni Sukarto, pernah melakukan penelitian batu tersebut. Menurut hasil observasi pada saat itu, tulisan yang tertera di Batu Bertulis merupakan ayat-ayat suci keagamaan. <br /><br />“Tulisan ini adalah ayat-ayat suci keagamaan menurut penelitian pak Sukarto pada tahun 1985. Namun, saat itu beliau belum dapat menterjemahkan keseluruhan tulisan ini. Jadi hingga sekarang belum ada yang bisa menterjemahkan tulisan ini,” terang F. Apong.<br /><br />Pada jaman kolonial Belanda dahulu, juga telah dilakukan observasi terhadap prasasti tersebut. namun, penelitian itu berhenti ditengah jalan sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang komprehensif tentang Batu Bertulis.<br /><br />“Pernah dilakukan penelitian pada jaman kolonial Belanda. Tapi juga belum ada penjelasan resmi dari penelitian itu,” tutur Apong.<br /><br />Karenanya, hingga saat ini isi dari tulisan pada batu tersebut masih menjadi misteri yang belum dapat diungkapkan. <br /><br />Dengan segala misteri dan keunikannya itu, Batu Bertulis memberikan daya tarik tersendiri bagi kalangan wisatawan. Menurut Apong, frekuensi kunjungan wisatawan ke Batu Bertulis masih cukup tinggi. <br /><br />“Umumnya wisatawan lokal seperti pelajar dan mahasiswa yang sering datang kesini. Setiap bulannya ada 5 sampai 10 kunjungan,” jelas Apong.<br /><br />Tak hanya wisatawan lokal yang tertarik mengunjungi Batu Bertulis. Turis asing pun pernah datang ke lokasi tersebut. “6 tahun lalu masih ada turis asing yang datang kesini. Tapi setelah itu tidak ada lagi. Mungkin kurang promosi,” papar Apong.<br /><br />Salah satu kendala yang membuat wisatawan berpikir dua kali untuk mengunjungi Batu Bertulis adalah bekondisi infrastruktur yang belum memadai. Untuk datang ke lokasi yang berjarak lebih kurang 15 kilometer dari ibukota Kecamatan Nanga Mahap, pengunjung hanya bisa menempuh perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Jalan menuju lokasi sebagian sudah ditingkatkan dengan material semen atau rabat beton. <br /><br />“Memang kondisi jalan menjadi salah satu faktor yang cukup menyulitkan. Ini juga salah satu penyebab minimnya kunjungan ke Batu Bertulis,” ucap Apong.<br /><br />Karenanya, pihak Desa dan Dusun kata dia sering mengujakan pembangunan jalan ke dusun Pait kepada Pemerintah Daerah. Hanya saja, usulan mereka belum direalisasikan, padahal sering diusulkan dalam MusrenbangDes setiap Tahun. <br /><br />“Yang saya tahu, setiap tahun dalam Musrenbang Desa selalu diajukan pembangunan jalan menuju kesini. Tapi sampai hari ini belum juga terealisasi,” tutup Apong. <strong>(Mto/kn)</strong></p>