Benda cagar budaya batu bertulis menurut Sekretaris Dinas Perhubungan, Telekomunikasi, Informatika, Kebudayaan, dan Pariwisata Sekadau Syafarani SPDi, menjadi situs paling tua di Kabupaten Sekadau. Situs tersebut sangat berharga dan patut dipelihara hingga ke generasi mendatang. Pemerintah kabupaten berusaha menjaga kelestarian benda cagar budaya tersebut. <p style="text-align: justify;">Beberapa fasilitas mencakup pagar, atap serta toilet merupakan bentuk perhatian pemerintah kabupaten. Kekurangan senantiasa ada, terutama infrastruktur jalan. Karenanya sulit untuk menjadi objek tujuan wisata dalam skala massal. Hanya sepeda motor yang menjadi alat tranportasi andalan menuju lokasi Batu Bertulis di Dusun Pait, Dusun Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap yang berjarak sekitar 65 kilometer dari ibukota kabupaten. Pengunjung juga kesulitan bersantai duduk seraya menikmati kesakralan batu bertulis. <br /><br />“Banyak yang harus dibenahi,” paparnya, Selasa (06/03/2012).<br /><br />Senada, Kepala Seksi Kebudayaan Sekadau AB Muin mengatakan pemerintah Sekadau turut membantu dana kepada juru pelihara Batu Bertulis, F Apong. Nominalnya kecil namun bentuk penghargaan terhadap kinerja juru pelihara. Dikonfirmasi, Apong membantah pernah mendapat honor dari pemerintah Sekadau. Selama ini, honor sebesar Rp650 ribu per bulan merupakan bantuan dari pemerintah pusat. <br /><br />“Meski honor kecil namun rasa tanggungjawab saya tetap besar memelihara batu bertulis,” ucap dia.<br /><br />Batu bertulis kerap menjadi pusat penelitian mahasiswa maupun ilmuwan. Pemerintah secara terbuka mempersilakan karena turut bantu mempromosikan. Hanya saja selama ini, hasil penelitian nyaris tidak pernah dilaporkan kepada dinas. Demikian juga kepada masyarakat setempat seperti nasib yang menimpa Apong yang juga timanggong Dayak Mahap. Ia kerap menjadi penuntun, narasumber, serta menampung para peneliti Batu Bertulis di rumahnya. Kebiasaan peneliti, datang dan bertanya namun tidak pernah membagikan hasil kajian kepadanya. <br /><br />“Sampai sekarang saya tidak tahu pasti arti aksara di batu bertulis,” sebut dia.<br /><br />Apong memastikan masyarakat setempat serius menjaga Batu Bertulis dari keusilan pihak-pihak jahat. Bagaimanapun Batu Bertulis sudah menjadi bagian hidup penduduk Dusun Pait secara turun temurun. Warga juga mengakui banyak mendapat keuntungan dari keberadaan Batu Bertulis. Selain, kerap menerima kehadiran peneliti juga beberapa wisatawan lokal. Wisatawan memiliki berbagai tujuan mulai dari mencari peruntungan maupun kesembuhan. <br /><br />“Banyak yang berhasil,” katanya.<br /><br />Secara bangga Apong menyebut dari sekitar 87 kepala keluarga di Dusun Pait terhitung memenuhi standar pendidikan minimal. Bahkan, sekolah dasar di Dusun Pait merupakan rintisan dari para misionaris yang berdiri bersamaan dengan sekolah rakyat yang berdiri di ibukota kecamatan. Dampaknya, mayoritas sudah mahir baca tulis sejak zaman kakek Apong. <br /><br />“Sekarang, semua tenaga guru di SD Pait merupakan warga setempat,” tutur dia.<br /><br />Jadi kata Apong, Batu Bertulis turut berdampak terhadap melek membaca masyarakat Dusun Pait. Sampai sekarang, ia berkeyakinan kalau Batu Bertulis merupakan petunjuk di kawasan hutan lindung tersebut pernah menjadi pusat kebudayaan.</p> <p style="text-align: justify;">Hanya saja sampai sekarang belum ada situs lain yang mendukung keberadaan Batu Bertulis maupun pusat kebudayaan itu. Ironisnya, pembangunan SMP Negeri menjadi gagal karena status hutan lindung. Secara bersamaan, penduduk berkeinginan mengecap pendidikan lebih tinggi dengan dukungan gedung sekolah berikut tenaga pengajar yang dekat dengan perkampungan. <br /><br />“Harapan, Dusun Pait senantiasa selalu berkembang dengan penduduk yang mampu mengikuti kemajuan teknologi,” ujar dia.<strong> (phs)</strong></p>


















