Bayi Satu Bulan Meninggal Di Duga ISPA

oleh

Agustinus, bayi yang berusia satu bulan tiga hari dan diduga menderita inspeksi saluran pernafasan (ISPA), akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Rabu (14/10) sekitar pukul 21.15 WIB. <p style="text-align: justify;">Bayi mungil itu meninggal setelah mendapatkan perawatan selama tiga hari di rumah sakit RSU Santo Vincentius Singkawang.<br /><br />"Anak saya masuk rumah sakit sejak Senin lalu," kata Ferdinandus (29), orangtua bayi, di kediamannya Jl Gunung Bawang Nomor 42 E, Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat, Kamis.<br /><br />Dia menceritakan, saat itu anaknya merasa kesulitan bernafas karena banyak lendir. "Lalu kami bawa ke bidan kemudian dirujuk ke rumah sakit, akhirnya anak saya diberi oksigen oleh petugas, ceritanya.<br /><br />Saat berada di rumah sakit itulah, anaknya pun diberi perawatan oleh tim medis Rumah Sakit Umum Santo Vincentius.<br /><br />"Suhu badan anak saya waktu itu naik turun dengan suhu mencapai 38,5 derajat celcius," katanya.<br /><br />Menurut dokter, katanya, bahwa bayi bungsunya itu terkena ISPA. "Dan ketika diberi obat, suhu tubuh anak saya turun, namun setelah satu jam, suhu tubuhnya kembali panas. Tidak berapa lama anak saya sesak nafas dan diberi penguapan, kemudian wajahnya membiru, perawat mengatakan saat itu tidak apa-apa," katanya.<br /><br />Selang beberapa menit kemudian, denyut jantung anaknya menjadi nol dan sempat turun naik. Sehingga kedua orang tuanya tidak mampu lagi melihat penderitaan yang dialami anaknya.<br /><br />Ferdinandus mengungkapkan, memang kabut asap sempat masuk ke dalam rumahnya beberapa waktu lalu.<br /><br />"Kabut asap cukup pekat dan masuk ke dalam rumah. Bahkan masuk ke kamar. Dan kedua anak saya yang lain semuanya pakai masker ketika di dalam rumah," katanya.<br /><br />Namun, dia tidak menyangka jika anaknya yang paling bungsu ini akhirnya terkena ISPA.<br /><br />Kurni, ibu korban mengaku syok dan sangat bersedih atas meninggalnya bayi kesayangannya.<br /><br />"Sebelum sakit, dia kuat menyusui badan, bahkan beratnya sampai empat kilo gram. Tapi ketika sakit, dia tidak mau lagi," katanya.<br /><br />Meski dalam berduka, namun Kurni masih ingat Tuhan, dan akhirnya bisa pasrah dan ikhlas atas kepergian anaknya. (das/ant)</p>