BBPOM : Penganan Anak Menunjukkan Perbaikan

oleh

Hasil pengawasan pangan jajanan anak sekolah di Pontianak dan sekitarnya yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Pontianak dalam dua tahun terakhir menunjukkan adanya perbaikan. <p style="text-align: justify;"><br />"Namun demikian diharapkan masyarakat tetap waspada karena masih adanya temuan makanan yang mengandung bahan berbahaya dan mikroba melampaui batas yang telah ditentukan. Keamanan jajanan anak sekolah itu sangat penting dan harus menjadi perhatian serius, karena berkontribusi dalam memberikan asupan gizi dan energi bagi anak-anak sekolah," kata Kepala BBPOM Kota Pontianak, Mustofa, Kamis.<br /><br />Dia mengatakan bahwa masalah kurang gizi bagi anak-anak usia sekolah tidak diperburuk lagi dengan mengkonsumsi pangan yang tidak sehat dan berisiko bagi kesehatan anak-anak tersebut.<br /><br />Mustofa menjelaskan, dari hasil survei Badan POM RI tahun 2008 ditemukan bahwa pangan jajanan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi sebesar 31,1 persen dan protein sebesar 27,4 persen. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 78,0 persen anak sekolah jajan di lingkungan sekolah, baik di kantin resmi sekolah maupun dari para penjaja makanan di luar sekolah.<br /><br />"Dari hasil pengawasan pangan jajanan anak sekolah yang dilakukan rutin sejak tahun 2008-2010 menunjukkan PJAS yang tidak memenuhi syarat mencapai 40 – 44 persen. Sementara itu di Pontianak pada tahun 2010 dari hasil pengawasan PJAS Balai POM terhadap 349 sampel, tercatat tidak memenuhi syarat sekitar 36,68 persen," kata Mustofa.<br /><br />Sementara itu dari hasil pengawasan periode pertama tahun 2011 sampai dengan bulan April 2011 yang dilaksanakan di dua kota yaitu di Pontianak dan Singkawang dengan jumlah 316 sampel pangan PJAS dari 23 Sekolah Dasar diperoleh hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya.<br /><br />Di mana total PJAS tidak memenuhi syarat menurun menjadi 16,46 persen dari sebelumnya 36,68 persen, mencapai penurunan sampai kisaran 20,22 persen.<br /><br />Sedangkan persentase PJAS mengandung mikroba melebihi batas yang diperkenankan turun menjadi 15,50 persen dari 18,03 persen di tahun 2010. Sedangkan makanan yang mengandung bahan tambahan pangan melebihi batas yang telah ditetapkan di tahun 2010 13,22 persen menjadi 2,85 persen pada tahun 2011.<br /><br />Berdasarkan hal tersebut, Mustofa mengatakan hal itu merupakan sebuah perkembangan keamanan pangan bagi jajanan anak-anak sekolah khususnya di dua kota tersebut.<br /><br />"Kita akan terus melakukan pengawasan secara berlanjut ke semua wilayah Kalimantan Barat, karena dari sekian banyak sampel makanan yang diuji Laboratorium kebanyakan mengandung formalin, Borak, Mikroba, Rodamimble (zat pewarna pakaian)," tuturnya.<br /><br />Ia menambahkan bahwa tidak ada ciri-ciri khusus yang bisa dilihat dengan kasat mata terhadap kandungan zat berbahaya yang ada dalam makanan kecuali melalui uji laboratorium untuk itu diharapkan para orangtua lebih berhati-hati dan menyarankan lebih baik membekali anak-anak tersebut dari rumah.<br /><br />"Di Pontianak dan Kubu Raya hanya ada 3 sekolah saja yang sudah aman makanan di kantin yakni SDN 20, SDN 36 dan SDS Tunas Bangsa," katanya.<br /><br />Menurutnya, semakin maraknya jajanan anak di sekolah yang selama ini sering ditemukan adanya bahan berbahaya untuk kesehatan dalam jajanan tersebut, membuat Balai Pengawasan Obat dan Makanan BADAN POM RI Wilayah Kalimantan Barat melakukan razia rutin dan melakukan pembinaan terhadap para pedagang jajanan di sekolah.<br /><br />"Untuk dua tahun terakhir ini, kita sudah memeriksa 316 sampel makanan dari 23 sekolah yang ada di kota Pontianak dan Singkawang," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>