Belajar Menjadi Indonesia Melalui Konferensi Budaya Nasional 2012

oleh

Serangkaian Konferensi Budaya Nasional 2012 yang diselenggarakan BEM Universitas Udayana, digelar talkshow budaya bertajuk “Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Kehidupan Berbangsa”. Kegiatan ini menghadirkan Radhar Panca Dahana, Romo Mudji Sutrisno dan Jean Couteau sebagai pembicara (6/12). <p style="text-align: justify;">“Kebudayaan selama ini kerap ditelaah secara definitif, bukan dengan pemahaman dan penghayatan mendalam” ujar Romo Mudji Sutrisno<br /><br />"Melalui acara ini kita sesungguhnya berusaha ‘meng-Indonesia’ dengan pendekatan budaya” tambah budayawan yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya dan Pascasarjana Universitas Indonesia. <br /><br />Jean Couteau menyatakan bahwa selama sekian puluh tahun kebudayaan di Indonesia dikontruksi sangat sempit yakni cenderung hanya mengacu kepada masa lalu.<br /><br />“Kebudayaan bukan hanya kode-kode dan tanda-tanda tetapi juga sesuatu yang dinamis, perlu dikritisi dan tidak pernah serupa” ungkap antropolog dan pengamat seni asal Perancis yang telah lama bermukim di Bali ini.<br /><br />Adapun Radhar menegaskan bahwa dalam menghadapi segala hal termasuk kekuatan kebudayaan baru, masyarakat justru harus menggunakan kekuatan kebudayaan lokalnya. <br /><br />“Tetapi celakanya, kita sering tidak percaya pada kebudayaan sendiri” ujar sastrawan peraihMedali Frix de le Francophonie 2007.<br /><br />Kegiatan tersebut diikuti oleh 194 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. <br /><br />“Sebagian besar adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur” kata Ketua Panitia Konferensi Budaya Nasional, Ni Made Frischa Aswarini<br /><br />Talkshow budaya merupakan agenda pertama konferensi yang berlangsung pada 6-8 Desember 2012. Pada hari kedua, 7 Desember 2012, digelar diskusi kelompok serta perumusan rekomendasi sebagai output kegiatan. Diselenggarakan pula pemutaran film karya Garin Nugroho yakni Under The Tree, Soegija, dan Opera Jawa, bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali. <br /><br />Pada puncak acara, peserta akan bertamasya budaya ke Subak Jatiluwih, warisan budaya dunia UNESCO. Akan digelar pula talkshow budaya bertajuk “Peran Pemuda dalam Transformasi Budaya” bersama Prof. R. Siti Zuhro dan I Dewa Gede Palguna.<br /><br />Sekilas Tentang Semangat Dasar Penyelenggaraan KBN 2012<br /><br />Kebudayaan nasional Indonesia adalah suatu proses yang terus menjadi dan senantiasa berubah seiring perkembangan zaman. Kebudayaan nasional yang terdiri dari berbagai kultur daerah yang pada dasarnya memiliki kesamaan-kesamaan tertentu, bertemu dengan nilai-nilai budaya modern semisal multikulturalisme dan demokrasi sehingga mengalami pergeseran, dinamika, dan juga ketegangan.<br /><br />Sejalan dengan itu, tak pelak terjadi transformasi budaya dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat dengan kultur yang mencerminkan kekinian. Transformasi budaya merupakan keniscayaan bagi bangsa Indonesia yang plural dan tengah berupaya mewujudkan demokratisasi di segala lini. Proses tersebut pun tak dapat dihindari mengingat adanya arus globalisasi yang membawa pengaruh luar yang tak tertolak.<br /><br />Meski demikian, transformasi budaya di Indonesia selama ini cenderung berjalan tanpa adanya kontrol atau pengawasan yang terarah dan terukur. Akibatnya, proses tersebut mengalami sekian hambatan dan tegangan yang memicu paradoks serta alienasi kultural dalam diri manusia Indonesia. Mencermati realita ini, kontribusi apa yang dapat dilakukan oleh para pemuda untuk mengawal transformasibudaya yang telah dan tengah terjadi? Komitmen kebudayaan dan langkah strategis macam apa yang harus dijalankan generasi muda untuk dapat mendukung upaya demokratisasi sehingga dapat memupuk persatuan bangsa dan mampu bersaing di ranah global? Hal ini menjadi latar belakang sekaligus bahasan yang akan diperdalam di Konferensi Budaya Nasional 2012 nantinya. <strong>(phs/press release/foto: dok)</strong></p>