Belasan Orang Jadi Korban Gigitan Anjing Liar Di Kota Baru

oleh

Belasan orang warga Kota Baru, kecamatan Tanah Pinoh menjadi korban gigitan anjing liar. Akibatnya, banyak korban yang mengalami luka terkena gigitan, bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit. <p style="text-align: justify;">Dampaknya, warga setempat pun mulai memburu bahkan sampai menembak bila menemukan anjing yang berkeliaran karena takut menjadi korban.<br /><br />Salah seorang warga Kota Baru, Siswanto melalui telepon seluler menyebutkan, anjing-anjing yang tak diketahui asal usulnya tiba-tiba mengejar dan mengigit warga yang ditemuinya.<br /><br /> “Anjing tersebut berkeliaran dan menggigit warga yang berada di daerah Potai Desa Pelita Kenanya dan Desa Batu Begigi, bahkan sebagian besar korbannya berada di Desa Batu Begigi,”  ungkapnya.<br /><br />Menurut Siswanto, hingga kini belum diketahui dari mana asal anjing yang mengejar manusia tersebut, bahkan jumlah anjing yang mengejar manusia tersebut lebih dari satu ekor.<br /><br />“Saat ini jika ada bertemu dengan anjing langsung dikejar dan dibunuh warga, dengan cara ditembak dan dipukul, karena jumlahnya sudah lebih dari satu,” ucapnya.<br /><br />Dengan adanya kasus tersebut  muncul kekhawatiran dari para pemilik anjing di Kota Baru sehingga banyak anjing yang diungsikan oleh pemiliknya keluar daerah. Karena takut nantinya anjing tersebut terjangkit dan dibunuh oleh warga yang sekarang masih berburu anjing gila. <br /><br />“Pada hari pertama heboh dengan munculnya anjing tersebut sempat menggigit warga sampai sembilan orang,” terangnya.<br /><br />Sementara itu, Kepala Puskesmas Tanah Pinoh, dr Indrakrisna Agung Pratikna yang dihubungi melalui telepon seluler menyatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah anjing yang tiba-tiba mengejar dan menggigit warga di Kota Baru mengidap rabies atau penyakit anjing gila.<br /><br />“Karena protap (prosedur tetap) nya, bila memang anjing ini terkena rabies, dia harus ditangkap dan dikerangkeng selama 14 hari. Setelah dikurung, kemudian dipotong lehernya dan diberikan formalin baru dikirim ke Jakarta. Biasanya kalau benar anjing ini terkena rabies, biasanya dia akan mati sendiri dan barulah dipenggal lehernya dan kita kirim sampelnya ke pusat,” katanya.<br /><br />Agung pun menjelaskan, pemeriksaan terhadap kemungkinan anjing ini terjangkiti virus rabies  memang mesti di lakukan di pusat mengingat di Melawi, bahkan di tingkat provinsi tidak bisa melakukan pengecekan.<br /><br />“Karena memang kasus rabies belum pernah ditemukan di wilayah Kalbar. Termasuk di Melawi,” ujarnya.<br /><br />Agung pun mengatakan dirinya juga belum menerima laporan adanya pasien rawat jalan yang menjadi korban gigitan anjing di puskesmasnya. Menurutnya, seandainya memang benar ada virus rabies pada gigitan anjing, penanganan medisnya juga lumayan ribet karena mesti mendatangkan serum anti rabies dari pusat. Selain itu juga, orang yang terkena gigitan anjing gila tidak bisa serta merta langsung merasakan dampak rabies.<br /><br />“Info yang kita terima, anjing yang menggigit ini adalah anjing liar. Jadi di Kota Baru ini, ada beberapa anjing yang malah sudah ditembak oleh warga. Kita bahkan tak tahu, mana anjing yang pertama kali mengigit karena sudah terlebih dahulu dibunuh,” katanya.<br /><br />Ia pun menuturkan ada pula dugaan yang muncul, anjing yang melakukan gigitan pada warga kebetulan anjing induk yang sedang memiliki anak. Hanya memang tidak diketahui, mengapa tiba-tiba anjing tersebut menjadi galak dan mengejar sampai mengigit warga.<br /><br />“Kita hingga kini belum bisa mengatakan anjing ini anjing gila atau mengidap rabies karena perlu pemeriksaan mendalam,” pungkasnya. <strong>(Ek/kn)</strong></p>