Bentuk Protes, Warga Tanam Pohon Pisang di Tengah Jalan

oleh

Kerusakan jalan yang sudah cukup parah dari Tugu Karet (Simpang Pinoh)-Tugu Beji Kabupaten Sintang mengundang protes warga. <p>Protes tersebut dilakukan warga dengan menanam sejumlah pohon pisang di beberapa lubang serta menumbangkan sejumlah baliho calon anggota DPR di jalan Sintang Pontianak KM 10, Jumat (15/11/2013).<br /><br />Protes dengan bentuk menanam batang pisang sebagai simbol lahan kosong disepanjang jalan itu, bukannya mendapat protes dari warga lain, namun sebaliknya, aksi tanam batang pisang justru didukung warga-warga lain karena mereka kecewa dengan pemerintah yang lebih memilih diam saat korban pengguna jalan terus berjatuhan, bahkan kemacetan jalan justru menjadi pemandangan rutin hampir setiap waktu.<br /><br />Niar, satu diantara warga yang kebetulan melintas di jalan Sintang – Pontianak Km 10 mengungkapkan apa yang dilakukan warga merupakan bentuk protes terhadap pemerintah.<br />  <br />Ia berharap pemerintah segera mengerjakan jalan agar tidak menelan korban.<br /><br />“Saya baca juga di media cetak bahwa Proyek senilai 63,7 Milyar itu sudah ada pemenang lelangnya, kok sampai hari ini belum juga dilakukan pengerjaannya, ada apa tanya, Niar<br />Ia berharap pemerintah segera mengerjakan jalan agar tidak menelan korban.<br /><br />Sementara itu Bupati Sintang, Drs. Milton Crosby, M.Si saat di konfirmasi mengatakan  berencana akan memanggil kontraktornya untuk meminta penjelasan.<br /> <br />“Karena lokasi kerjaannya diwilayah kita, apalagi masyarakat sudah menjerit-jerit, maka saya akan memanggil PT Tirta Dhea Adonnincs Pratama. Ada masalah apa hingga kini masih belum dimulai pekerjaannya.  <br /><br />Selain itu bupati juga mengaku heran dengan perusahaan yang hingga kini belum juga melaksanakan pekerjaan itu. Karena kontraknya tanggal 3 Mei 2013, sudah berjalan hingga 190 hari. Mestinya tidak terjadi kendala dengan pihak ketiga. <br /><br />“Ini proyek besar, masak perusahaan pemenangnya masih berkutak masalah dengan pihak ketiga.Perusahaan ini profiesional apa tidak “, tanya bupati.<br />    <br />Sementara itu, Kordinator Lapangan PT Tirta Dhea Adonnincs Pratama, Bangun yang dihubungi via ponselnya mengatakan bahwa pihak mengakui bersalah dengan proyek ini, karena pihaknya ceroboh ketika melakukan penawaran. Karena harga penawaran perusahaannya jauh dari HPS (Harga Perkiraan Sementara). Meski mengakui penurunan harga yang signifikan, namun dirinya mengaku tidak mengetahui HPS nya.<br />  <br />Dijelaskannya  dengan rendahnya penawaran yang mereka lakukan berakibat juga pada pekerjaan. Sehingga dalam pelaksanaan, kita berusaha seefisien dan seefektif mungkin, jelas Bangun. <em><strong>(das/yu/hi)</strong></em></p>