BI: Produksi Tambang Kalsel Kelebihan Stok

oleh

Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Wilayah Kalimantan Selatan kondisi turunnya permintaan batubara sebagian besar negara importir menyebabkan beberapa usaha tambang batubara mengalami kondisi "overstok" atau kelebihan stok. <p style="text-align: justify;">Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Khairil Anwar di Banjarmasin, Senin mengatakan, kondisi tersebut membuat beberapa perusahaan batu bara mengurangi intensitas produksinya.<br /><br />Sebagai contoh, salah satu tambang batubara terbesar di Kalsel hingga Oktober 2012 baru memproduksi 38,2 juta ton atau turun 3,6 persen dari periode sama tahun 2011.<br /><br />Berdasarkan data Bank Indonesia yang disampaikan dalam pertemuan gubernur dan kepala dinas Pemprov Kalsel, ekspor batubara selama 2012 hingga Oktober, baru mencapai 101 juta ton.<br /><br />Ekspor tersebut masih meningkat 12,28 persen dari periode sama di tahun 2012, namun pertumbuhannya melambat dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 26,28 persen.<br /><br />"Mengingat batubara menguasai 81 persen dari keseluruhan nilai ekspor Kalsel, maka perlambatan pertumbuhan ini dipastikan mempengaruhi kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi Kalsel secara keseluruhan," katanya.<br /><br />Sedangkan dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit di sektor pertambangan juga terus mengalami penurunan, apabila pada akhir 2011 masih tumbuh 63,49 persen maka pada Oktober 2012 hanya tumbuh 15,74 persen.<br /><br />Sementara dilihat dari risiko kredit, NPL sektor pertambangan pada Oktober 2012 mencpai 4 persen lebih tinggi dari kondisi Desember 2011 yang hanya 0,45 persen, namun demikian posisi masih aman karena masih di bawah 5 persen.<br /><br />"Turunnya ekspor tersebut, menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi Kalse pada triwulan III dan IV," katanya.<br /><br />Menurut Khairil, turunnya permintaan batubara dari mitra dagang utama seperti Cina, Jepang, Korea, dan India, beberapa perusahaan batubara mulai mengurangi intensitas produksi untuk mengantisipasi adanya over stok yang lebih besar lagi.<br /><br />Kondisi ini diperkirakan mempengaruhi kinerja sektor pertambangan, yang juga mempengaruhi perlambangan kinerja sektor pendukung lainnya seperti transportasi dan penyewaan alat berat.<br /><br />Melambatnya pertumbuhan ekspor tersebut, membuat laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan di triwulan III-2012 tumbuh sebesar 4,91 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2012 yang berhasil mencapai 6,03 persen.<br /><br />Dari sisi permintaan, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi banyak dipengaruhi oleh kontraksi yang dialami oleh aktivitas ekspor, terutama untuk komoditas batubara akibat melemahnya permintaan negara mitra dagang sebagai imbas dari krisis global yang belum cenderung membaik.<br /><br />Meskipun demikian, tambah Khairil, kinerja konsumsi masih cukup kuat, terutama konsumsi pemerintah yang mengalami percepatan selama triwulan laporan seiring meningkatnya aktivitas investasi daerah.<br /><br />Sementara peningkatan konsumsi pemerintah yang dipengaruhi oleh realisasi proyek fisik diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai dengan akhir tahun 2012.<br /><br />Dari sisi penawaran atau sektoral, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan dipengaruhi oleh melambatnya kinerja sektor dominan, terutama sektor pertambangan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>