Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalimantan Barat memperkirakan pada tahun 2012 akan terjadi 120 ribu persalinan di provinsi itu. <p style="text-align: justify;">"Sekitar 80 persen diantaranya sudah ditangani oleh tenaga kesehatan," kata Kepala BKKBN Perwakilan Kalbar, Dwi Listyawardani di Pontianak, Senin.<br /><br />Menurut dia, mereka yang sudah ditangani oleh tenaga kesehatan itu menjadi sasaran program KB terutama untuk pengguna metode kontrasepsi jangka panjang.<br /><br />"Mereka menjadi sasaran program KB pascapersalinan," kata Dwi Listyawardani, yang sebelumnya menjadi Sekretaris BKKBN Provinsi Jawa Timur itu.<br /><br />Ia menambahkan, setiap wanita yang sudah melahirkan atau keguguran, harus dilindungi oleh alat kontrasepsi.<br /><br />Selain itu, lanjut dia, jangan sampai ada kehamilan yang tidak diinginkan dari pasangan usia subur.<br /><br />"Wanita yang habis hamil atau keguguran, tidak boleh cepat-cepat hamil kembali," kata Dwi Listyawardani.<br /><br />Pemerintah pusat sendiri sudah memperkirakan untuk golongan miskin sekitar 30 persen dari total penduduk yang mendapat alat kontrasepsi gratis.<br /><br />"Kalau untuk IUD, tidak melihat strata atau golongan kemampuan seseorang, APBN membiayainya gratis," ujar dia.<br /><br />Sementara vasektomi dan tubektomi, digratiskan hanya untuk golongan tidak mampu atau miskin. Biaya untuk tubektomi Rp500 ribuan, dan vasektomi Rp400 ribuan.<br /><br />Di dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2012 secara nasional, target di bidang KB adalah meningkatkan peserta KB baru 179.340 dan KB aktif menjadi 28,2 juta pasangan usia subur.<br /><br />Meningkatnya kualitas dan jangkauan pelayanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta.<br /><br />Sedangkan untuk Kalbar, meningkatkan peserta KB baru menjadi 157.510 dan KB aktif menjadi 512.480 pasangan usia subur. <strong>(phs/Ant)</strong></p>


















