Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Perwakilan Kalimantan Barat akan menyiapkan insentif bagi penggerak program yang berhasil merekrut akseptor untuk menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). <p style="text-align: justify;">"Ada dana untuk melayani yakni jasa pelayanan dan dana pergerakan. Nah, yang dimanfaatkan, dana pergerakan," ujar Kepala BKKBN Perwakilan Kalbar, Dwi Listyawardani saat Pra Rakerda Pembangunan Kependudukan dan KB Tahun 2012 di Pontianak, Kamis.<br /><br />Ia mengungkapkan, untuk vasektomi atau tubektomi, dana pergerakan itu berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per akseptor. Sedangkan untuk IUD atau implant, sekitar Rp30ribu.<br /><br />Menurut Dwi Listyawardani, sejumlah daerah sudah menerapkan hal itu. "Misalnya di Situbondo, Jawa Timur," ujar dia.<br /><br />Ia menambahkan, adanya dana pergerakan itu salah satunya untuk mendorong peningkatan partisipasi pengguna metode kontrasepsi jangka panjang tersebut.<br /><br />Pra rakerda itu bertujuan melakukan evaluasi pencapaian sasaran program dan anggaran tahun 2011 serta menyusun kebijakan, strategi dan langkah operasional pencapaian sasaran dan rencana kerja tahun 2012.<br /><br />Selain pra rakerda, akan dilaksanakan rakerda yang dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalbar dengan bupati/wali kota se-Kalbar di Pontianak, Jumat (9/3).<br /><br />Kemudian, penandatanganan nota kesepahaman dengan Kakanwil Kementerian Agama Kalbar, Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar.<br /><br />Di dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2012 secara nasional, target di bidang KB adalah meningkatkan peserta KB baru 179.340 dan KB aktif menjadi 28,2 juta pasangan usia subur.<br /><br />Meningkatnya kualitas dan jangkauan pelayanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta.<br /><br />Sedangkan untuk Kalbar, meningkatkan peserta KB baru menjadi 157.510 dan KB aktif menjadi 512.480 pasangan usia subur. "Juga meningkatnya kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 379 klinik pemerintah dan swasta," kata Dwi Listyawardani. <strong>(phs/Ant)</strong></p>















