BLH : ISPU Di Pontianak Berbahaya Bagi Kesehatan

oleh

Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak menyatakan, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di kota itu, mulai dari kategori tidak sehat hingga berbahaya bagi kesehatan manusia. <p style="text-align: justify;">"Udara mulai dari siang hingga malam hari masuk kategori sangat tidak sehat, kemudian mulai pukul 00.30 WIB hingga pukul 02.00 dinihari kategori berbahaya bagi kesehatan manusia," kata Kepala BLH Kota Pontianak Imran di Pontianak, Rabu.<br /><br />Ia menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir kualitas udara di Pontianak memang sudah tidak sehat, akibat semakin tebalnya asap dari terbakarnya lahan gambut di sekitar Kota Pontianak.<br /><br />Imran mengimbau, kepada masyarakat Kota Pontianak untuk mengurangi aktivitasnya di luar rumah, kalaupun terpaksa keluar rumah sebaiknya menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.<br /><br />"Lebih bagus lagi menggunakan masker yang basah sehingga bisa menyaring atau menahan partikel debu sehingga tidak masuk dalam saluran pernapasan," ungkapnya.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Imran juga meminta masyarakat, untuk tidak membakar sampah rumah tangga, sementara bagi masyarakat yang memiliki lahan pertanian untuk tidak membersihkan lahan mereka dengan cara dibakar.<br /><br />"Sementara bagi pihak sekolah sebaiknya mengurangi aktivitas murid-muridnya di luar ruang belajar, karena saat ini dan mungkin beberapa hari kedepannya, ISPU di Pontianak semakin tidak sehat," katanya.<br /><br />Dampak dari semakin tebalnya kabut asap, saat ini juga telah mengganggu arus transportasi di Kalimantan Barat terutama di Kota Pontianak dan sekitarnya, karena terhambat oleh kabut asap yang semakin tebal beberapa hari terakhir.<br /><br />"Kabut asap semakin tebal, jarak pandang semakin pendek," kata Jafar seorang supir sebuah perusahaan yang baru tiba dari daerah hulu Kalbar.<br /><br />Ia memperkirakan, jarak pandang pada dinihari berkisar 50 meter. Kabut asap mulai terasa pekat ketika ia tiba di daerah Purun Kecil, Kabupaten Pontianak. "Semakin mendekati Kota Pontianak, kabut asap pun semakin tebal, biarpun pintu mobil ditutup, tetapi bau asap terasa di dalam," ujar dia.<br /><br />Menurut dia, dia pun mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah karena jarak pandang yang sangat terbatas. "Kalau subuh banyak kendaraan ke arah luar kota, kalau tidak hati-hati, bisa rawan kecelakaan," kata Jafar yang 21 tahun berprofesi sebagai sopir itu.<strong> (das/ant)</strong></p>