BLH: Pembakaran Lahan Pengaruhi Cuaca Ekstrim Kalbar

oleh

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kubu Raya Aswin Fuad mengatakan pembakaran lahan dan perubahan iklim secara global mengakibatkan cuaca ekstrim sering terjadi di Kalimantan Barat. <p style="text-align: justify;">"Cuaca ekstrim ini seperti terjadinya hujan sangat deras, yang sering mengakibatkan banjir, dan juga terjadi ‘thunderstorm’ (hujan badai), serta angin puting beliung pada musim hujan dan pancaroba," kata Aswin di Sungai Raya, Jumat.<br /><br />Menurut dia, karena letak Kabupaten Kubu Raya dan kota Pontianak dan beberapa daerah di Kalbar tepat di garis Khatulistiwa, sehingga pola hujannya adalah tipe Equatorial.<br /><br />Artinya, kata Aswin, di wilayah ini memiliki distribusi hujan bimodial dengan dua puncak masa waktu banyak hujan yaitu pada April dan November, dan dua lembah masa waktu yang kurang hujan yaitu pada Februari dan Agustus setiap tahunnya.<br /><br />"Kabut asap yang selalu muncul di Kalimantan Barat, erat kaitannya dengan adanya aktivitas ‘land clearing’ atau pembersihan lahan dan hutan dengan cara membakar. Sejak lama pembersihan lahan tersebut dilakukan umumnya pada musim kering merupakan upaya praktis yang dapat dilakukan perusahaan dalam menghemat pengeluaran biaya," tuturnya.<br /><br />Aswin menjelaskan, Kalbar, dan Kubu Raya pada khususnya, secara geografis terletak di sekitar garis Khatulistiwa dan tanahnya mayoritas adalah tanah gambut. Dalam kondisi alami yang tidak terganggu tanah gambut mempunyai fungsi ekologi yang penting, di antaranya mengatur air di dalam dan di permukaan tanah.<br /><br />Menurut dia, dengan sifatnya seperti spons, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinyu dilepas perlahan-lahan dan air akan mengalir secara konsisten.<br /><br />Sementara bagi masyarakat khususnya petani tradisional, lanjutnya, pembakaran lahan saat memulai pertanian adalah untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut, sehingga mengurangi penggunaan pupuk yang bernilai ekonomi tinggi.<br /><br />Namun hutan rawa gambut yang umumnya terdapat di Kalbar, dengan kondisi lokasi di tempat terbuka dan kering sangat rentan terjadi kebakaran yang selanjutnya dapat menimbulkan asap dan dapat mengganggu kesehatan dan menghambat transportasi, katanya.<br /><br />"Maka peranan para penyuluh lapangan sangatlah penting guna menyampaikan informasi kepada para petani tradisional untuk tidak memperburuk keadaan," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>