Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat menyatakan, pihaknya membutuhkan tambahan dua unit perahu karet dari yang saat ini sudah tersedia satu unit. <p style="text-align: justify;">"Kami sudah mengajukan pada pemerintah pusat terkait kebutuhan perahu karet tersebut dan rencananya akan dibantu sesuai kebutuhan pada tahun 2012," kata Kepala BPBD Kota Pontianak Sunarto, Rabu.<br /><br />Ia menjelaskan, perahu karet tersebut nantinya bisa digunakan sewaktu-waktu dalam memberikan bantuan pada masyarakat yang membutuhkan evakuasi kalau terjadi bencana alam banjir.<br /><br />"Meskipun semua badan yang bergerak dalam penanggulangan bencana alam punya perahu karet sehingga bisa saling membantu dan tinggal melakukan koordinasi," ujarnya.<br /><br />Kepala BPBD Kota Pontianak menambahkan, pihaknya kini telah memetakan daerah-daerah rawan terjadi bencana alam, seperti banjir, luapan air pasang Sungai Kapuas, asap, kebakaran lahan, angin puting beliung dan lain-lainnya.<br /><br />"Pada dasarnya semua kecamatan dari lima kecamatan di Pontianak termasuk rawan bencana alam, seperti bencana alam banjir, angin puting beliung, banjir pasang laut, kabut asap akibat kebakaran hutan," kata Sunarto, Senin.<br /><br />Ia menjelaskan, sebagian besar daerah Kota Pontianak mudah terendam akibat luapan air pasang laut yang masuk ke Sungai Kapuas Pontianak sehingga menggenangi daerah rendah di kota itu dengan ketinggian bervariasi yang terjadi pada musim-musim tertentu.<br /><br />"Sehingga sudah saatnya penduduk Kota Pontianak meninggikan pondasi rumahnya dengan membuat rumah panggung agar terhindar dari luapan air pasang laut," ujarnya.<br /><br />Sebelumnya, Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyatakan, sekitar 50 persen wilayah kota itu merupakan daerah genangan air sehingga mudah terendam saat musim hujan dan pengaruh air pasang dari Sungai Kapuas sehingga sangat cocok membangun rumah dengan arsitektur rumah panggung.<br /><br />Ia menjelaskan, fenomena wilayah tertentu terendam akibat luapan air Sungai Kapuas hampir setiap tahun terjadi pada musim hujan yang disertai tingginya air pasang.<br /><br />"Makanya kami mengambil kebijakan meninggikan beberapa ruas jalan yang rutin tenggelam pada musim hujan dan air pasang dengan pondasi beton dengan ketinggian 30 – 50 sentimeter, bahkan ada yang mencapai ketinggian di atas satu meter," kata Sutarmidji.<br /><br />Menurut Wali Kota Pontianak, daratan Kota Pontianak ketinggiannya 0,2 – 1,2 meter di atas permukaan laut sehingga sebagian besar memang mudah terendam pada musim hujan dan air pasang laut.<br /><br />Sehingga meskipun drainase lancar, kalau air Sungai Kapuas sedang pasang tinggi, maka air hujan tidak bisa cepat turun dan bertahan di daratan. "Tetapi fenomena Pontianak terendam biasanya tidak lebih dari delapan jam," kata Sutarmidji. <strong>(phs/Ant)</strong></p>















