BPBD Kotim Bangun 100 Meter Tanggul Darurat

oleh
oleh

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, membangun 100 meter tanggul darurat mencegah meluasnya abrasi di desa Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit. <p style="text-align: justify;"><br />"Kegiatan penanggulangan abrasi pantai daerah kawasan wisata desa ujung pandaran dimulai 13 Februari 2015 lalu. Sampai kemarin, diperkirakan sampai sudah mencapai 50 persen," kata Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kotim, Agus Mulyadi di Sampit, Jumat.<br /><br />Tanggul darurat dibuat menggunakan kantong pasir seberat 300 kilogram dilapisi geotek agar tidak larut. Kemudian ditutup geogrit agar tanggul kokoh dihantam ombak besar dan batang pohon yang hanyut di pantai sekitar permukiman nelayan setempat.<br /><br />Dua alat berat dikerahkan untuk "membangun" tanggul darurat itu. Rencananya tanggul yang dibangun sepanjang 100 meter menutupi 112 meter bibir pantai yang abrasi. Sebenarnya sudah ada bangunan penahan gelombang, namun kurang panjang.<br /><br />"Kami berharap tanggul darurat ini dapat bertahan hingga dibangunnya benteng laut permanen oleh pemerintah, yang dapat mengamankan objek wisata pantai kebanggaan kita dan masyarakat Kalteng ini," kata Agus.<br /><br />Pemasangan tanggul dipercepat karena ombak tinggi dan angin kencang diperkirakan masih akan terjadi bahkan bisa lebih parah hingga April nanti.<br /><br />Jika tidak cepat ditangani dikhawatirkan akan menimbulkan dampak parah, seperti rusaknya dua rumah warga belum lama ini akibat pondasi rumah tergerus abrasi. Penanganan masalah ini sudah dilakuka BPBD sejak 2013 lalu pada lokasi berbeda di sepanjang pantai.<br /><br />BPBD menyadari, jika tidak ada tindakan permanen maka abrasi akan terus terjadi, bahkan bisa menenggelamkan pantai berbentuk tanjung yang eksotik itu. Kemungkinan terburuk, pantai yang selalu dipadati ratusan ribu pengunjung tiap tahunnya itu hanya menjadi tinggal kenangan.<br /><br />Ombak ganas "Keganasan ombak laut sejak Januari 2014 sudah merusak sepanjang pantai terparah sampai saat ini lebar 40 x 112 meter hanya dalam waktu tiga bulan," ujar Agus.<br /><br />Informasi dari warga desa, selama 2014 sedikitnya ada 14 unit rumah yang terpaksa dirobohkan dan direlokasi ke tempat yang lebih aman karena tanahnya tergerus abrasi. Laju abrasi semakin parah dalam empat bulan terakhir akibat besarnya gelombang hingga ke bibir pantai.<br /><br />Pemerintah daerah sudah menyiapkan lokasi untuk merelokasi warga yang tinggal di sepanjang bibir pantai ke lokasi lebih aman, secara bertahap.<br /><br />Selain mencegah kerusakan parah dan korban jiwa akibat abrasi, relokasi itu juga untuk memudahkan penataan di objek wisata tersebut, sejalan keinginan pemerintah menjadikan daerah ini sebagai kota tujuan wisata. (das/ant)</p>