Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat nilai ekspor provinsi itu sepanjang Desember 2013 mencapai 120 juta dolar AS atau naik 16 persen dibanding November 2013 sebesar 104,13 juta dolar AS. <p style="text-align: justify;">"Ada tiga penyumbang ekspor terbesar di Kalbar, yaitu biji kerak dan abu logam, karet dan kayu. Ketiganya menyumbang sebesar 97,69 persen," kata Kepala BPS Provinsi Kalbar, Badar di Pontianak, Selasa.<br /><br />Sedangkan nilai ekspor Kalbar periode Januari hingga Desember 2013 mengalami kenaikan dari sebesar 1.300,86 juta dolar AS menjadi 1.350,69 juta dolar AS atau meningkat sebesar 3,86 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012.<br /><br />"China, Jepang dan Korea Selatan merupakan tiga negara tujuan ekspor Kalbar, masing-masing sebesar 64,43 juta dolar AS; 20,01 juta dolar AS; dan 12,75 juta dolar AS, dengan kontribusi sebesar 80,46 persen," ujar Badar.<br /><br />Selain itu, tujuan ekspor Kalbar masih didominasi negara Asia, dengan kontribusi sebesar 89,95 persen, disusul Meksiko sebesar 5,07 persen, Argentina 1,98 persen dan negara lainnya sebesar 3,00 persen.<br /><br />Sementara itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, serta industri mikro dan kecil (IMK) triwulan IV di provinsi itu, sepanjang tahun 2013 di atas angka nasional, yaitu Kalbar tumbuh sebesar 3,01 persen, sementara nasional 0,55 persen.<br /><br />Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, serta IMK triwulan IV tahun 2013 mengalami peningkatan dibanding triwulan IV tahun 2012, yakni sebesar 7,59 persen, dan nasional tumbuh sebesar 0,13 persen.<br /><br />Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, serta IMK triwulan IV tahun 2013 dibanding triwulan III tahun 2013, juga lebih besar dibanding angka nasional, yakni 3,28 persen untuk Kalbar, dan nasional sebesar 1,58 persen.<br /><br />Kenaikan tersebut, karena dipicu pertumbuhan industri tekstil sebesar 20,88 persen; industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar 20,31 persen; kemudian industri kayu, barang dari kayu, dan gabus (tidak termasuk furniture), dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya naik sebesar 15,60 persen.<br /><br />Industri furniture naik sebesar 11,94 persen; jasa reparasi dan pemasangan mesin, serta peralatan sebesar 8,60 persen, industri barang logam sebesar 8,60 persen; pakaian jadi sebesar 1,41 persen; industri pengolahan lainnya sebesar 1,41 persen; dan industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional sebesar 1,25 persen, kata Badar. <strong>(das/ant)</strong></p>

















