BRI Lampaui Target Penyaluran KUR

oleh

Menjalankan program penguatan permodalan usaha rakyat, Bank Rakyat Indonesia Cabang Sintang yang ikut menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2011 ternyata telah berhasil melampaui target penyaluran sebesar 400 persen. <p style="text-align: justify;">“Kredit KUR mikro dengan budget maksimal Rp 20 juta ini didominasi para pedagang dan ternyata animo masyarakat memanfaatkan fasilitas pemerintah ini cukup tinggi,” ujar Cenderia TJ Tasdik, Kepala BRI Cabang Sintang kepada kalimantan-news.<br /><br />Ia mengatakan di tingkat internal, evaluasi evaluasi terhadap penyaluran KUR ini dilaksanakan tiap triwulan.<br /><br />“Evaluasi ini meliputi penyaluran, kualitas kredit maupun skema KUR nya, sedangkan untuk Bank Indonesia pelaksanaan evaluasi dilaksanakan setiap semester,” jelasnya.<br /><br />Untuk di Kabupaten Sintang ia mengatakan para pedagang kulat yang dominan memanfaatkan KUR, selain itu juga dimanfaatkan para pedagang lainnya.<br /><br />Dijelaskan dia, KUR terbagi dua jenis, pertama KUR mikro yang maksimal didanai sebesar Rp 20 juta dan kedua KUR retail maksimal sebesar Rp 500 juta.<br /><br />“Jika inginkan investasi seperti membeli ruko, los pasar dapat mengajukan permohonan KUR,” kata dia.<br /><br />Jika KUR mikro sampai sekarang sudah mencapai 400 persen realisasinya, maka untuk realisasi KUR retail hingga sekarang sudah mencapai 112 persen dari target yang disalurkan.<br /><br />“Selain tingginya animo masyarakat untuk memanfaatkan KUR ini, kerja keras tenaga lapangan BRI juga punya peranan besar sehingga serapan KUR ini berjalan dengan baik,” tukasnya.</p> <p style="text-align: justify;">Dalam KUR lanjut dia, agunan atau jaminan tidak menjadi persyaratan utama, karena yang dilihat itu adalah pada kelayakan usaha.<br /><br />“Jika pedagang kulat mengajukan pinjaman dan berdasarkan penilaian maka KUR akan disalurkan meskipun tanpa adanya agunan,” ujarnya.<br /><br />Jaminan kata dia anggaplah hanya pelengkap saja, namun agunan bukanlah mutlak diperlukan.<br /><br />“Jika ada debitur ditolak kreditnya bukanlah karena persoalan jaminan, namun ini biasanya terjadi ketidakcocokan antara calon nasabah dengan pihak bank. Misalnya keinginan calon nasabah menginginkan pinjaman yang besar sementara berdasarkan perhitungan standarisasi pinjaman ini tidak dapat dikabulkan seperti kelayakan usaha Rp 200 juat, tetapi mengajukan sampai Rp 400 juta, itu salah satu yang jadi kendala,” paparnya. <strong>(phs)</strong></p>