Buah Tengkawang Mulai Banjir

oleh

Masyarakat di pedesaaan saat ini tengah disibukan memanen buah tengkawang yang jatuh dari pokoknya. <p style="text-align: justify;">Kayu atau buah Tengkawang salah satu buah komoditi hutan di Sekadau. Hanya sayang, harga buah tengkawang masih murah dibeli oleh para pengepul.<br /><br />Seorang petani di Nanga Mahap, Yuslinus misalnya mengatakan harga tengkawang masih murah. Untuk tengkawang yang sudah kering atau disalai, dibeli pengepul seharga Rp 7000 per kilogram. <br /><br />Sementara untuk tengkawang yang masih basah Rp 1.500, termahal Rp 2.000 per kilogram. <br /><br />“Tengkawang ada namun tidak banyak, hanya harganya masih murah. Yang sudah disalai saja harga Rp 7000 per kilogram, harga segini masih murah,” jelasnya disambangi di Nanga Mahap baru-baru kemarin.<br /><br />Di Nanga Mahap lanjutnya, masih lumayan banyak dijumpai buah tengkawang, salah satunya di Desa Sebabas, termasuk di Desa-Desa lainnya. Desa Nanga Mahap memang hampir seluruh Desa masih terdapat hutan. Khusus di Desa Sebabas, di Dusun Pait terdapat hutan lindung yang masih dijaga keasriannya.<br /><br />“Kalau di Dusun Setugal, Batu Koran dan Dusun Pait, Desa Sebabas masih lumayan banyak buah tengkawang,” jelasnya.<br /><br />Ia mengaku penghasilan masyarakat di pedalaman memang saat ini masih sulit. Yang makin menyulitkan, sejak harga karet anjlok hingga mencapai Rp 6.000 per kilogram.<br /><br />“Waktu harga kulat (karet) masih Rp 13-14 ribu per kilogram, kita yang noreh masih enak dapat uang. Sekarang tidak lagi, harga karet murah. Kita harus pandai-pandai cari uang tambahan untuk kebutuhan anak sekolah dan untuk sehari-hari,”curhat Bapak tiga anak ini.<br /><br />Yuslinus berharap harga karet kembali normal, paling tidak mencapai Rp 10 ribu rupiah per kilogramnya. “Kalau harga karet 10 ribu pun belum sebanding harga solar Rp 12.000 per liter dikampung. Mudah-mudahan lah harga karet kembali naik,” harapnya. <strong>(Mto/kn)</strong></p>