Bupati Tutup Musdat Dan Resmikan Betang Adat Lebang Nado

oleh
oleh

Setiap sub suku Dayak yang ada di Kabupaten Sintang diharapkan terus menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai adat istiadat, seni dan budaya masing-masing dengan berbagai cara karena berkaitan dengan identitas masyarakat sehingga menjadi kekayaan seni budaya yang dimiliki Kabupaten Sintang. Hal tersebut disampaikan Bupati Sintang Drs. Milton Crosby, M. Si saat menutup musyawarah adat ke VII masyarakat adat sub suku Dayak Lebang Nado serta peresmian Rumah Betang di Dusun Bayur Desa Linggam Permai Kecamatan Kayan Hilir pada Minggu, 3 Juli 2011. <p>“saya sangat berharap pendataan dan pelestarian kekayaan adat istiadat, seni dan budaya tersebut karena saya tidak ingin ciri identitas tersebut perlahan-lahan hilang. Jangan sampai sub suku yang ada hilang seperti suku Maya dan Inca Amerika Latin. Lembaga adat yang ada merupakan bentuk kesadaran kita untuk berorganisasi dan bentuk menjaga solidaritas yang tidak ekslusif dari masyarakat Lebang Nado”pinta Bupati. “saya mengajak masyarakat Lebang Nado untuk bersama pemerintah mengisi Museum Kapuas Raya dengan secara sukarela memberikan miniatur dari benda cagar budaya kepada Pemkab Sintang seperti alat tangkap ikan tradisional jaman dulu dan yang lain” ajak Bupati Sintang. Kepala Sub Suku Dayak Lebang Nado Gregorius Bando menyampaikan harapan masyarakatnya akan perhatian pembangunan untuk daerah dan warganya kepada Pemkab Sintang. “pada Musdat dan gawai kali ini, selain kembali memilih saya untuk memimpin, kami berhasil melahirkan sebuah semboyan sub suku Dayak Lebang Nado yakni Empong Hengiang Burong Duato Puyang Gano Kor Hamengat Hemayu Anak Mensio. Kata-kata ini akan kami ucapkan setiap kami akan mulai dan mengakhiri bicara di depan umum. Artinya hamper sama dengan semboyan yang dimiliki oleh saudara kami Sub Suku Dayak Kanayatn” jelas Gregorius Bando. “berkaitan dengan Rumah Betang yang diresmikan Bupati Sintang, memang sengaja kami bangun hanya 8 pintu saja, karena sub suku Dayak Bando dulu hanya terdiri dari 8 KK saja yang pindah dari kampong Tajam di Kecamatan Dedai Karen rumah betang kami terbakar. Kami pindah sementara ke kampung Linggam, dan akhirnya menetap di dusun Bayur ini. Saat ini masyarakat sub suku Dayak Lebang Nado sudah ada di 16 kampung yang masuk ke kecamatan Kayan Hilir dan Dedai. Kami saat ini akan mendata, ada berapa KK dan jumlah jiwanya. Rumah Betang ini semuanya dari alam seperti kayu, rotan, bambu, pohon pinang dan kulit kayu. Untuk mengikat, kami tidak menggunakan paku, tetapi rotan” jelas Tumenggung yang sudah memimpin Sub Suku Dayak Lebang Nado sejak 1996 ini. Sekretaris DAD Kabupaten Sintang Drs. Askiman, MM menjelaskan gawai di kalangan masyarakat Dayak saat ini memang sedang berlangsung di seluruh pulau Kalimantan dan Sarawak Malaysia. “itu memang tradisi yang sudah kita lakukan secara turun temurun sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat atas hasil panen dan keselamatan selama menjalankan kegiatan berladang serta untuk menutup musim berladang tahun sebelumnya dan menyiapkan diri memulai musim berladang berikutnya” jelas Askiman. Ketua panitia Petrus Wisti menjelaskan Musdat ke VII yang berlangsung selama dua hari yakni 1-2 Juli 2011 tersebut diikuti oleh 112 orang peserta. “selain diskusi yang membahas hukum adat sub suku Dayak Lebang Nado, kami juga secara aklamasi Tumenggung kami yakni Gregorius Bando” jelasnya.</p>