Bupati Tutup Pameran Wastra Borneo 2016

oleh

Di sejumlah negara menunjukkan bawah kearifan dan tradisi lokal terbukti tidak menjadi penghalang bagi proses pembangunan. justru sebaliknya, kearifan dan tradisi lokal beserta hasil karya yang ada di dalamnya, mampu menjadi salah satu kekuatan dalam mencapai keberhasilan pembangunan. <p> </p> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">Demikian disampaikan Bupati Sintang Jarot Winarno saat menutup Pameran Wastra Borneo di Pendopo Bupati Sintang pada Kamis, 20 Oktober 2016. </div> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">“keunikan dari kearifan dan tradisi lokal, sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang di dalamnya mengusung semangat green economy, yang telah menjadi komitmen global. maka dari itu, menjadi kewajiban kita untuk menjaga, memertahankan dan mengembangkan kearifan dan tradisi lokal secara serius dan optimal” tambah Jarot Winarno.</div> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">Menurut Bupati Sintang, event pameran wastra borneo dan festival tenun ikat yang telah kita selenggarakan sejak tanggal 18 oktober yang lalu di kabupaten sintang, yang di dalamnya menampilkan kain-kain  tradisional yang indah beserta mengunjungi musem yang menghimpun karya seni budaya, pada dasarnya merupakan bentuk nyata dari upaya kita menjaga, mempertahankan dan mengembangkan kearifan dan tradisi lokal yang dimiliki di pula borneo.</div> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">“khusus tentang tenun ikat, perlu saya jelaskan bahwa produk lokal ini menjadi identitas diri bagi suku dayak sintang, yang dihasilkan dengan menenun melalui hand made serta menggunakan bahan-bahan pewarnaan alam sebagai wujud pelestarian alam dan hutan. tenun ikat yang telah memperoleh pengakuan internsional ini, sebagai kebangaan kami sehingga harus didorong ke ruang publik yang semakin luas. tenun ikat tidak boleh hanya berada pada ide pelestarian warisan budaya semata, akan tetapi juga harus difungsikan sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat. sebagai sarana edukasi, tenun ikat harus dijadikan pusat pengetahuan dan pembelajaran tentang nilai-nilai filosofis yang melekat selain aspek teknis yang ada di dalamnya. sedangkan sebagai sebagai sarana pemberdayaan masyaraka, tenun ikat menjadi komoditas yang memperkuat  ekonomi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan” tambah Bupati Sintang.</div> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">Ketua Panitia Wastra Borneo 2016 Marchues Afen menjelaskan pameran kain tradisional selama tiga hari bisa berjalan lancar dan sukses. </div> <div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">"Kami berharap kegiatan ini mampu mendekatkan museum kepada masyarakat kabupaten sintang. Meningkatkan rasa bangga masyarakat sintang akan keberadaan tenun ikat. Kami juga sudah melaksanakan berbagai lomba untuk memeriahkan pameran wastra borneo 2016. Pada tahun 2017 nanti, pameran wastra borneo akan dilaksanakan di Kota Kinabalu Sabah Malaysia” terang Marchues Afen. </div> <p>Demikian disampaikan Bupati Sintang Jarot Winarno saat menutup Pameran Wastra Borneo di Pendopo Bupati Sintang pada Kamis, 20 Oktober 2016. </p> <p>“keunikan dari kearifan dan tradisi lokal, sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang di dalamnya mengusung semangat green economy, yang telah menjadi komitmen global. maka dari itu, menjadi kewajiban kita untuk menjaga, memertahankan dan mengembangkan kearifan dan tradisi lokal secara serius dan optimal” tambah Jarot Winarno.</p> <p>Menurut Bupati Sintang, event pameran wastra borneo dan festival tenun ikat yang telah kita selenggarakan sejak tanggal 18 oktober yang lalu di kabupaten sintang, yang di dalamnya menampilkan kain-kain  tradisional yang indah beserta mengunjungi musem yang menghimpun karya seni budaya, pada dasarnya merupakan bentuk nyata dari upaya kita menjaga, mempertahankan dan mengembangkan kearifan dan tradisi lokal yang dimiliki di pula borneo.</p> <p>“khusus tentang tenun ikat, perlu saya jelaskan bahwa produk lokal ini menjadi identitas diri bagi suku dayak sintang, yang dihasilkan dengan menenun melalui hand made serta menggunakan bahan-bahan pewarnaan alam sebagai wujud pelestarian alam dan hutan. tenun ikat yang telah memperoleh pengakuan internsional ini, sebagai kebangaan kami sehingga harus didorong ke ruang publik yang semakin luas. tenun ikat tidak boleh hanya berada pada ide pelestarian warisan budaya semata, akan tetapi juga harus difungsikan sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat. sebagai sarana edukasi, tenun ikat harus dijadikan pusat pengetahuan dan pembelajaran tentang nilai-nilai filosofis yang melekat selain aspek teknis yang ada di dalamnya. sedangkan sebagai sebagai sarana pemberdayaan masyaraka, tenun ikat menjadi komoditas yang memperkuat  ekonomi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan” tambah Bupati Sintang.</p> <p>Ketua Panitia Wastra Borneo 2016 Marchues Afen menjelaskan pameran kain tradisional selama tiga hari bisa berjalan lancar dan sukses. </p> <p style="text-align: justify;">"Kami berharap kegiatan ini mampu mendekatkan museum kepada masyarakat kabupaten sintang. Meningkatkan rasa bangga masyarakat sintang akan keberadaan tenun ikat. Kami juga sudah melaksanakan berbagai lomba untuk memeriahkan pameran wastra borneo 2016. Pada tahun 2017 nanti, pameran wastra borneo akan dilaksanakan di Kota Kinabalu Sabah Malaysia” terang Marchues Afen. (Slh/Hms)</p> <div></div> <p> </p>