Cetak Sawah Baru

oleh

Program pertanian intensif dengan rencana pencetakan sawah baru seluas minimal 500 hektar setiap kecamatan bisa berjalan manakala program yang dirancang itu bisa sinkron dengan penyuluh di lapangan, jangan sampai program dibuat tetapi penyuluhnya tidak tahu. <p style="text-align: justify;">“Sejauh ini memang untuk program kita koordinasinya dilapangan, artinya ketika penyuluh tahu ada kegiatan dari dinas, maka penyuluh yang ada di lapangan bisa langsung turut serta membantu,” kata Arbudin, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sintang pada kalimantan-news.com, Senin (19/09/2011).<br /><br />Sejak penyuluh pertanian berdiri sendiri  dan menyatu dalam badan khusus bersama dengan penyuluh perikanan, kehutanan dan ketahanan pangan, maka otomatis penyuluh pertanian tidak dibawah kendali langsung Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sintang.<br /><br />Alumni Fakultas Pertanian Untan ini mengatakan ketika dinas mulai merencanakan program penambahan lahan pertanian sawah 500 hektar per kecamatan, justru penyuluh yang intensif menyampaikan informasi kepada dinas mengenai potensi pengembangan sawah diwilayah tugasnya.<br /><br />“Karena kalau kita buat program tetapi penyuluhnya tidak ikut berjalan aka akan susah juga dan selama ini komunikasi program dengan penyuluh dilapangan sudah cukup bagus,” jelasnya.<br /><br />Ia mengakui secara kelembagaan memang belum ada pertemuan secara khusus untuk mensingkronkan program antara Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sintang dengan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sintang.<br /><br />“Meski demikian, singkronisasi program berlangsung alami dilapangan,” ujarnya.<br /><img src="../../data/foto/imagebank/20110919072803_760E4A9.jpg" alt="" width="641" height="374" /><br />Sejauh ini menurutnya program pencetakan sawah baru sudah terus berjalan bahkan untuk beberapa sentral seperti Kelam Permai, total areal malah sudah lebih dan tetap ditingkatkan luasnya.<br /><br />“Kalau target 500 hektar per kecamatan di Kelam Permai sudah lebih, bahkan dengan upaya peningkatan, luasnya bisa lebih dari 1000 hektar,” ucapnya.<br /><br />Yang masih menjadi kendala kata dia adalah sawah baru ini tidak sedikit yang hanya satu kali tanam, padahal dengan pembuatan sawah diharapkan bisa dua kali tanam dalam setahun atau lebih.<br /><br />“Memang ada beberapa wilayah yang sudah mulai dua kali tanam bahkan ada yang tiga, namun tidak banyak,” imbuhnya.<br /><br />Menurut Arbudin, untuk menjadikan sawah itu bisa dua kali tanam, tidak sedikit kendala yang dialami adalah soal sistem pengairan yang masih belum optimal, selain itu juga menyangkut kebiasaan.<br /><br />“Itu karena petani kita masih belum terbiasa dengan sawah intensif, dua sampai tiga kali tanam setahun,” ujarnya.<br /><br />Soal serangan hama, ia mengatakan untuk tanaman padi itu masih hama umum dan belum ditemukan serangan masif sehingga berakibat gagal panen.<br /><br />“Tiap tahun kita juga buat denplot untuk sistem pengedalian hama terpadu, ini bisa jadi sekolah lapang bagi petani untuk pengendalian hama, mereka bisa belajar disana,” kata dia.<br /><br />Kepala Desa Telaga I, Mingki mengatakan di desanya sekarang petani sudah bisa mengolah sawah sampai tiga kali dalam setahun dengan hasil rata-rata empat ton per hektar.<br /><br />“Bahkan pada musim tertentu, hasil bisa sampai enam ton per hektar,” ujarnya singkat.<strong> (phs)</strong></p>