Curah Hujan Di Kalbar Meningkat Pada Oktober

oleh

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Cabang Supadio Pontianak memperkirakan curah hujan pada beberapa daerah di Kalimantan Barat meningkat pada bulan Oktober mendatang. <p style="text-align: justify;">"Untuk bulan September ini, curah hujan di Kalimantan Barat masih normal dengan intensitas 200 hingga 300 milimeter. Namun pada bulan Oktober mendatang akan mengalami peningkatan dengan intensitas 300 hingga 400 meter," kata Kasi Observasi BMKG Supadio Pontianak, Sri Ningsih di sungai Raya, Rabu.<br /><br />Menurutnya, dengan intensitas tersebut menyebabkan beberapa daerah seperti Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Kabupaten dan Kota Pontianak, Kubu Raya serta Singkawang menjadi daerah rawan banjir.<br /><br />Namun, BMKG memprediksikan banjir yang terjadi kemungkinan tidak terlalu besar jika pasang air laut normal.<br /><br />Untuk itu dia mengimbau agar masyarakat dapat membersihkan selokan dan parit di sekitar rumah dan lingkungan agar air bisa mengalir normal.<br /><br />Karena jika tidak, hal tersebut tentu akan menghambat pengaliran air dan dapat mengakibatkan banjir besar.<br /><br />Dia mengatakan, struktur perubahan cuaca di Kalimantan Barat sulit untuk diprediksi karena memiliki banyak memiliki hutan hujan tropis, sangat berbeda dengan daerah lainnya seperti di Jawa dan beberapa pulau lainnya.<br /><br />Ia menambahkan, jika musim panas, di Kalimantan Barat biasanya masih terjadi hujan, meski dengan intensitas rendah, demikian pula sebaliknya.<br /&gt;<br />"Tidak seperti pulau Jawa yang terjadi saat ini, di mana beberapa daerah kesulitan mendapatkan air karena kemarau berkepanjangan. Kalbar justru saat ini mendapat anugrah curah hujan cukup tinggi," katanya.<br /><br />Sri menjelaskan, semakin menipisnya hutan di beberapa daerah mengakibatkan proses penyerapan air tidak stabil. Terlebih banyaknya lahan yang dibuka dengan cara dibakar, menghambat terbentuknya awan.<br /><br />Hal tersebut mengakibatkan permukaan air mudah menguap, karena tidak ada pohon yang menyerap air.<br /><br />Sementara itu, lanjut dia, awan yang menyerap uap air sangat sedikit dan tidak dapat membendung tingginya proses penguapan air.<br /><br />Tak dapat dipungkiri, lanjutnya, kondisi cuaca di Kalbar belakangan ini memang sulit untuk diterka. Pagi hari, terkadang kita melihat cuaca sangat cerah, namun tiga jam kemudian tiba-tiba saja hujan mengguyur dengan derasnya. Ahir-akhir ini pihaknya melihat di radar cuaca semakin banyak daerah yang terkena hujan lebat.<br /><br />"Kondisi alam yang semakin rusak, mengakibatkan hal tersebut. Perlu diketahui, cuaca dapat berubah lingkungan, namun sebaliknya, lingkungan dapat memodifikasi cuaca," tuturnya.<br /><br />Dia mengatakan, pada umumnya, curah hujan tinggi di Kalbar terjadi pada bulan Desember hingga April, sedangkan bulan-bulan lainnya curah hujan sangat rendah.<br /><br />Bahkan untuk bulan Agustus merupakan musim kemarau. <br /><br />"Namun karena cuara di Kalbar bersifat Equatorial mengakibatkan daerah ini sering mendapatkan hujan," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>