Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanad) Nunukan, Kalimantan Utara, Letkol Laut Bayu Ignatius T menjelaskan status senjata api yang ditemukan sekitar Agustus 2013 di perbatasan perairan Indonesia-Malaysia. <p style="text-align: justify;">"Dua pucuk senjata api laras panjang yang ditemukan beberapa bulan yang lalu tidak jauh dari mercusuar perbatasan Indonesia-Malaysia di Karang Unarang, Kabupaten Nunukan diduga dipergunakan untuk kepentinagn ekonomi dan terorisme.<br /><br />Pada acara "Ngobrol-ngobrol dengan Insan Pers" di Markas Kodim 0911/Nunukan, ia mengatakan, kedua pucuk senjata api tersebut ditemukan di dalam air oleh prajurit TNI AL saat patroli di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia di Karang Unarang pada Agustus 2013.<br /><br />Untuk memastikan pengunaan senjata api itu TNI AL telah melakukan analisa mengenai kemungkinan dua pucuk senjata api itu akan digunakan untuk kegiatan terorisme atau kegiatan ekonomi.<br /><br />"Setelah lama dilakukan analisa maka disimpulkan senjata api itu, kemungkinan akan digunakan untuk kegiatan ekonomi yakni perampokan terhadap nelayan yang sedang beraktivitas di sekitar wilayah perbatasan sebagaimana yang sering terjadi selama ini, ujar Bayu.<br /><br />"Jadi kesimpulan kami (TNI AL), keberadaan senjata api yang ditemukan dalam laut itu dipergunakan untuk kegiatan ekonomi (perampokan)," ujarnya.<br /><br />Kecurigaan awal senjata api itu akan digunakan dalam kegiatan terorisme, karena alasan posisi Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Filipina sangat rawan menjadi jalur memasok senjata masuk ke Indonesia.<br /><br />"Ternyata kecurigaan itu kurang kuat dan tidak didukung bukti-bukti sehingga disimpulkan bahwa senjata api tersebut kemungkinan digunakan untuk perampokan," ujarnya.<br /><br />Ia mengungkapkan, hingga kini pemilik senjata api tersebut tidak ditemukan. <strong>(das/ant)</strong></p>


















