Daya Beli Masyarakat Melawi, Menurun

oleh

Penurunan harga karet dan Tandan Buah Segar (TBS) di Melawi sangat berdampah terhadap daya beli di Melawi. <p style="text-align: justify;">Hal itu disampaikan Kepada Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Melawi, Apelles Itang. Iya mengatakan, penurunan daya beli tersebut sudah terjadi sejak 4 bulan belakangan ini.<br /><br />"Terlebih saat ini kondisi cuaca kemarau, kabut asap yang semakin pekat membuat daya beli masyarakat makin berkurang. Karena masyarakat malas mau keluar. Hal ini dikeluhkan pedagang," ungkap Apelles ketika ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/9)<br /><br />Terkait harga sembaro dan daging di pasaran, Apelles mengatakan tidak ada masalah. Harga stabil, hanya saja harga daging ketika Hari Raya Idhul Adha naik hingga Rp. 150 ribu sampai Rp. 200 ribu per kilogramnya. "Namun saat ini harga daging sudah turun seperti biasanya," ungkapnya.<br /><br />Lebih lanjut Ia mengatakan, merosotnya harga karet saat ini membuat masyarakat semakin susah. Terlebih harga karet saat ini tidak seimbang dengan harga beras perkilogramnya, begitu juga dengan harga TBS sawit. "Harga karet saat ini hanya Rp. 5 ribu per kilogramnya. Sedangkan beras rata-rata Rp. 15 ribu per kilogramnya. Sementara harga TBS Rp. 600-800 per kilogramnya," bebernya.<br /><br />Krisis yang menimpa masyarakat Melawi saat ini tidak hanya menyulitkan ekonomi keluarga. Namun perputaran uang di pasaran juga sangat berpengaruh. "Pedagang juga sudah ngeluh. Sementara stok masih banyak sekali. Nah kerugian mereka bisa terjadi apabila stok yang ada sudah kedaluarsa," ujarnya.<br /><br />Kondisi ekonomi, dan kondisi alam saat ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Sebab jika tidak segera diatasi, akan membuat rakyat teriak. Terlebih saat ini dolar mengalami kenaikan, sehingga bisa membuat harga sembako semakin meningkat. (KN)</p>