Dayak Meratus Paling Dirugikan Dengan Anjloknya Karet

oleh

Masyarakat adat Dayak Meratus, khususnya yang mendiami kawasan pegunungan meratus di kabupaten hulu sungai tengah, kalimantan selatan, adalah pihak yang paling dirugikan dengan anjloknya harga karet mentah saat ini. <p style="text-align: justify;">Menurut tokoh masyarakat adat dayak meratus setempat, mido basmi di barabai, ibu kota hulu sungai tengah, selasa, hal itu disebabkan mayoritas masyarakat adat setempat bermata pencaharian sebagai petani karet.<br /><br />"masyarakat adat dayak meratus di hst memiliki mata pencaharian utama sebagai petani padi sawah dan karet sehingga yang paling merasakan dampak anjloknya harga karet adalah mereka," ujarnya.<br /><br />Saat ini, di hulu sungai tengah harga karet mentah jenis "lumb" hanya senilai rp3 ribu per kilogram, turun dengan sangat drastis dan tiba-tiba dari kisaran harga sebelumnya rp20 ribu hingga rp24 ribu per kilogram.<br /><br />Ia mengatakan, akibat dari anjloknya harga karet membuat banyak masyarakat adat di hulu sungai tengah yang kebingungan.<br /><br />"sekarang tidak ada lagi usaha andalan mereka untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga karena hasil padi sawah tidak untuk di jual, khusus untuk konsumsi saja," katanya.<br /><br />Sementara itu, koordinator lembaga pemberdayaan masyarakat adat (lpma) borneo selatan yang mengayomi masyarakat adat dayak meratus, juliade, memandang anjloknya harga karet akan berimbas pada pola mata pencaharian.<br /><br />"akan terjadi pergeseran pola mata pencaharian pada masyarakat adat dayak meratus karena saat ini mereka sudah mengenal budaya konsumtif," ujarnya.<br /><br />Budaya konsumtif yang telah merasuki masyarakat adat dayak meratus diyakini akan membuat sebagian mereka kebingungan untuk memenuhi tuntutan hidup.<br /><br />"hasil hutan bukan kayu andalan mereka hanya karet, sedang seperti damar, gaharu dan lainnya, sebatas mencari di hutan dengan hasil yang tidak memadai bila dibandingkan dengan kebutuhan sekarang," katanya.<br /><br />Ia menilai, akan terjadi eksodus besar-besaran masyarakat adat dayak meratus ke daerah lain untuk mencari penghasilan tambahan lain.<br /><br />"pengalaman saat anjloknya harga karet pada akhir 2008 saat krisis keuangan global lalu, banyak masyarakat adat dayak meratus yang beralih menjadi penambang emas di daerah lain dan sepertinya hal itu akan kembali terulang lagi," tambahnya.<br /><br />Menjadi penambang emas di daerah lain yang jauh dari kawasan pemukiman mereka, hanyalah sebagai pelarian daripada tidak ada aktivitas lain karena profesi tersebut tidak menjanjikan dan tidak dapat di duga hasilnya.<br /><br />Anjloknya harga karet juga diyakini akan berimbas pada pasar yang akan menjadi lebih sepi dari aktivitas jual beli.</p>