Home / Tak Berkategori

Deputi Seswapres Bantah BLT Bodohi Rakyat

- Jurnalis

Jumat, 28 Januari 2011 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bambang Widiyanto menyayangkan adanya kritik yang menyebut bahwa program Bantuan Langsung Tunai (BLT) hanya membodohi rakyat. <p style="text-align: justify;"><br />"Sangat disayangkan memberi Rp100 ribu per bulan kepada orang miskin saja dipersoalkan padahal memang masih banyak rakyat kita yang benar-benar rentan," kata Deputi Seswapres Bidang Kesra dan Pengentasan Kemiskinan pada diskusi tentang Kemiskinan di Jakarta, Jumat (28/01/2011). <br /><br />Pada 2005 ketika program BLT akan diluncurkan, sebesar 40 persen dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) hanya dinikmati oleh 20 persen orang terkaya, sementara orang miskin hanya menikmati lima persen saja dari subsidi BBM tersebut, ujarnya. <br /><br />"Orang kaya mungkin menggunakan BBM sampai 200 liter sebulan dan itu berarti menghabiskan sampai Rp700 ribu per bulan. Sayangnya ketika BLT diberikan kepada orang miskin, pemerintah malah dikatakan membodohi rakyat," katanya. <br /><br />Program BLT yang sudah dihentikan pada awal 2010 tersebut, menurut dia, seharusnya terus dilanjutkan, bukannya dihapus. <br /><br />Menurut Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Dr Sujana Ruchiyat, pada 2010 BLT telah diganti dengan program lain yang mirip, yakni dana bantuan sosial khusus, misalnya bagi orang cacat dan jompo. <br /><br />Dalam kesempatan itu Bambang juga mengungkapkan bahwa pemerintah berada dalam dilema ketika menghadapi persoalan naiknya harga beras, di satu sisi berarti petani semakin makmur, di sisi lain juga berarti naiknya jumlah rakyat miskin. <br /><br />"Kalau harga beras bagus, petani untung, seharusnya pemerintah senang dengan ini," katanya. <br /><br />Namun kenyataannya, beras menjadi indikator utama dari statistik garis kemiskinan yang jika harganya naik sedikit saja maka akan berarti bahwa jumlah orang miskin meningkat pesat, ujarnya. <br /><br />"Jika kita impor beras, secara statistik orang yang berada di bawah garis kemiskinan berkurang. Tapi bagaimanapun pemerintah tidak boleh main impor saja meskipun kebutuhan beras setiap tahun terus melonjak, seiring pertumbuhan penduduk," katanya. <br /><br />Saat ini Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan standar berupa nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari untuk menentukan garis kemiskinan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Berita Terkait

Pemkab Sintang Tegaskan Kerjasama Pemerintah dan Masyarakat Menjadi Kunci Sukses Pengamanan Idul Fitri 2026
Wabup Sintang Hadiri Peninjauan Lokasi TMMD di Masuka Sintang
Wabup Sintang Hadiri Safari Ramadhan PHBI Sintang di Masjid Darusalam Desa Merarai Satu
Camat Montallat Apresiasi PT TOP Group Gelar Buka Puasa Bersama dan Salurkan Bantuan Sosial
Sengketa Lahan Adat Libatkan Perusahaan Tambang, Perkara Muliadi Cs Bergulir di PN Muara Teweh
Besi Pengaman Jembatan Melawi II Dicuri, Infrastruktur Vital Dibobol: Polisi Buru Pelaku
DPMPTSP Sintang Sediakan Berbagai Saluran Pengaduan untuk Tingkatkan Kualitas Layanan
Kepala DPMPTSP Sintang Pimpin Rapat Pembahasan Pengaduan PBG

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 21:09 WIB

Pemkab Sintang Tegaskan Kerjasama Pemerintah dan Masyarakat Menjadi Kunci Sukses Pengamanan Idul Fitri 2026

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:52 WIB

Wabup Sintang Hadiri Peninjauan Lokasi TMMD di Masuka Sintang

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:46 WIB

Wabup Sintang Hadiri Safari Ramadhan PHBI Sintang di Masjid Darusalam Desa Merarai Satu

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:23 WIB

Camat Montallat Apresiasi PT TOP Group Gelar Buka Puasa Bersama dan Salurkan Bantuan Sosial

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:16 WIB

Sengketa Lahan Adat Libatkan Perusahaan Tambang, Perkara Muliadi Cs Bergulir di PN Muara Teweh

Berita Terbaru

Eksekutif

Wabup Sintang Hadiri Peninjauan Lokasi TMMD di Masuka Sintang

Kamis, 5 Mar 2026 - 20:52 WIB