Desainer Medan Juara Arsitektur Riset Orangutan Kalimantan

oleh

Desainer dari Studio Tujuh Medan, Sumatera Utara, Krispitoyo dan Muhammad Faisal Imansyah juara pertama Sayembara Desain Arsitektur Stasiun Riset Orangutan Kalimantan di Kalimantan Barat. <p style="text-align: justify;">"Studio Tujuh mengalahkan empat peserta lainnya yang dinyatakan lolos seleksi tahap pertama," kata Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia Hermayani Putera ketika dihubungi di Pontianak, Rabu.<br /><br />Menurut dia, sebagai juara kedua adalah DOT Workshop DKI Jakarta, dan mahasiswa Arsitektur UNIKA Soegijapranata Semarang di posisi ketiga. Sedangkan dua peserta lainnya dari Bandung dan Sanur Bali menempati urutan empat dan lima.<br /><br />Sayembara yang diselenggarakan WWF-Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalbar ini berlangsung sejak 7 Juni, dan memasuki tahapan akhir 20 Juni 2011.<br /><br />Sedangkan dewan juri terdiri atas Anna Widjajanti (Ketua) dari IAI, Budi A Sukada (anggota) yang saat ini menjabat Ketua Kehormatan IAI Nasional, dan Albertus Tjiu (anggota), Project Leader WWF-Indonesia Kantor Putussibau.<br /><br />Studio Tujuh Medan dipilih sebagai pemenang sayembara karena konsep yang diajukan memenuhi tiga kriteria, yakni memasukkan konteks lokal, sangat aplikatif, dan berbasis ekowisata yang ramah lingkungan.<br /><br />Hermayani Putera mengatakan sayembara ini hanya awal dari sebuah agenda besar pembangunan di bidang konservasi alam.<br /><br />"Kita coba menggali segenap potensi dari para desainer dalam mengaplikasikan disiplin keilmuannya malalui sayembara. Selanjutnya, hasil desain itu akan menjadi dasar bagi pembuatan detail engineering design (DED) institusi tersebut," katanya.<br /><br />Hermayani menjelaskan desain itu untuk konsep pembangunan Stasiun Riset Orangutan Kalimantan yang akan dibangun di Kabupaten Kapuas Hulu, sebagai pusat penelitian bagi pengamatan perilaku orangutan di habitatnya yang alamiah.<br /><br />"Stasiun ini juga menjadi wilayah terdepan manusia dalam bersentuhan secara tidak langsung dengan habitat orangutan," kata dia.<br /><br />Ia berharap melalui kegiatan tersebut dapat memberikan edukasi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya penyelamatan orangutan dan habitatnya.<br /><br />"Bentuknya bisa beragam. Dari pendidikan publik tentang konservasi, penelitian, hingga bantuan untuk penyelamatan orangutan maupun satwa langka lainnya yang hampir punah," jelas Hermayani.<br /><br />Selain itu, kata Hermayani, terdapat pula fasilitas utama seperti "reception centre", "information centre", kantor staf WWF, peneliti, stasiun pengamatan, hingga penginapan untuk para peneliti.<br /><br />"Kita berharap, perencanaan stasiun riset ini dapat mengakomodasi para peneliti yang membawa serta keluarganya. Penelitian yang dilakukan umumnya dapat memakan waktu bulanan hingga tahunan," kata Hermayani.<br /><br />Selain itu, perencanaan stasiun riset ini juga dapat mempertimbangkan sejumlah hal teknis menyangkut pengelolaan sampah sumber daya energi.<br /><br />"Di lokasi yang direncanakan, terdapat air terjun yang dapat menghasilkan tenaga listrik mikrohidro, namun hanya berkapasitas 100 watt. Jadi, perlu penggunaan sumber daya lain terutama menyangkut dampaknya terhadap habitat orangutan," kata Hermayani.<br /><br />Dengan dibangunnya Stasiun Riset Orangutan Kalimantan di Kalbar, diharapkan pula dapat mendorong kesadaran lokal dan internasional yang lebih besar menyangkut perlindungan bagi spesies langka. "Semoga dapat memberikan dampak bagi peningkatan jumlah spesies orangutan di alam bebas yang menjadi habitat sesungguhnya," kata dia.<br /><br />WWF sebelumnya mengingatkan bahwa populasi orangutan di Kalimantan Barat telah berkurang setengahnya dalam kurun waktu 2004 hingga 2010.<br /><br />Populasi orangutan di Kalbar 2004 lalu terdata 2000 ekor, namun turun drastis dan hingga sekarang hanya tinggal sekitar 1000 ekor saja, kata Hermayani Putra.<br /><br />Ia mengatakan penyebab turun drastisnya populasi orangutan di kawasan TNBK dan Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, karena perburuan dan penebangan hutan secara liar.<br /><br />Menurut data WWF, terdapat dua subspesies orangutan di Kalbar, yaitu Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus pygmaeus. Menurut hasil studi WWF sekitar 70 persen orangutan di Pulau Kalimantan hidup di luar kawasan lindung. Populasi terbesar terkonsentrasi di hutan dataran rendah yang banyak diarahkan fungsinya untuk areal budidaya atau hutan produksi.<strong> (phs/Ant)</strong></p>