Dibutuhkan SMK Perkebunan Di Perbatasan Indonesia-Malaysia

oleh

Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) Sabah Malaysia, Dadang mengatakan, sebaiknya pemerintah membangun Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Perkebunan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. <p style="text-align: justify;">SMK Perkebunan ini sudah sangat mendesak, untuk menampung lulusan siswa SMP anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Sabah Malaysia yang kemungkinan tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah menamatkan pendidikan tingkat pertama, kata dia di Kota Kinabalu, Senin.<br /><br />"Sebaiknya ada SMK khusus jurusan perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di (Kabupaten) Nunukan," ujar Dadang.<br /><br />Lokasi yang paling tepat SMK Perkebunan tersebut adalah di Pulau Sebatik sebagai pulau terdekat dari Sabah dan mudah dijangkau oleh siswa-siswa maupun orangtua mereka.<br /><br />Alasan Dadang mengusulkan SMK Perkebunan jurusan kelapa sawit adalah anak-anak TKI sudah pengalaman bekerja di perkebunan kelapa sawit sehingga apabila dipermantap lagi melalui jalur pendidikan maka akan menjadi lebih baik lagi.<br /><br />Pertimbangan lain agar SMK Perkebunan dapat dibangun di Kabupaten Nunukan dalam waktu dekat ini adalah ratusan siswa siswi SMP di SIKK Sabah segera menamatkan pendidikan dan belum diketahui kemana akan melanjutkannya, kata dia.<br /><br />"Di Sebatik lebih strategis dibangun SMK Perkebunan karena jangkauannya lebih dekat sehingga sewaktu-sewaktu siswa siswi maupun orang tuanya dapat bertemu," katanya.<br /><br />Kemudian, dia menegaskan, lulusan SMK Perkebunan kepala sawit dipastikan menjadi tenaga kerja handal dan siap pakai di sejumlah perkebunan kelapa sawit di Malaysia maupun di Indonesia karena ditunjang pengalamannya bersama orang tuanya bekerja di peladangan kelapa sawit di Sabah ditambah lagi telah diberikan pengetahuan soal itu.<br /><br />Ia mengatakan, apabila lulusan SMP SIKK Sabah ini tidak segera diwadahi dikhawatirkan akan kembali bekerja membantu orangtuanya di peladangan sehingga pengetahuan yang diperolehnya selama akan sia-sia.<br /><br />"Jadi kita mesti memikirkan wadah anak-anak TKI setelah menamatkan pendidikan di sekolah anak-anak TKI. Jika tidak, dikuatirkan mereka akan kembali bekerja membantu orangtuanya di perladangan," ucap Dadang.<br /><br />Dadang juga menegaskan, jika tidak dipikirkan mulai sekarang maka anggaran pemerintah pusat untuk biaya operasional sekolah anak-anak TKI di Sabah sebesar Rp3 miliar seolah-olah tiga berguna.<strong> (das/ant)</strong></p>