Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Barat termasuk Sintang dua bulan lalu menyebabkan terjadinya bencana kekeringan. <p style="text-align: justify;">Akibatnya lahan pertanian petani yang telah ditanami mengalami gagal panen.<br /> <br />“Hasil pantauan kami di lapanga, lahan pertanian yang gagal panen mencapai 80 per sen lebih dari seluruh lahan pertanian yang ada di sintang ini. Kemarau panjang itu telah menyebabkan bencana kekeringan dan mengakibatkan rawan pangan. Kondisi itu makin diperparah denngan jatuhnya harga karet yang cukup drastic sampai dibawah Rp 10 ribu,” ungkap Askiman saat ditemui di ruang kerjanya kemarin <br />Menurut Askiman bencana kekeringan melanda semua kecamatan di wilayah Sintang, sehingga diperlukan tanggap darurat untuk penanganan bencana tersebut.<br /> <br />Kekeringan yang paling parah menurutnya terjadi pada lahan pertanian kering. Sedangkan pada lahan pertanian basah (sawah) masih ada yang bisa diselamatkan.<br /> <br />“Ketika kemarau melanda, tanaman padi petani sudah mulai berbunga sepanjang 5-8 meter. Karena tidak ada air, tanaman padi tetap berbuah tapi tidak ada isinya atau hampa,”ucapnya.<br /><br />Kondisi tersebut menurutnya membuat penghasilan atau produksi petani mengalami penurunan yang luar biasa pula. Jika dalam kondisi normal, setiap hektar tanaman padi petani bisa mendapatkan 1 ton lebih beras. Namun pada musim panen gadu beberapa waktu lalu, petani hanya bisa membawa pulang kurang dari 30 kg gabah. “Kondisi inilah yang perlu diantisipasi,”ucapnya.<br /> <br />Terhadap kondisi tersebut, Askiman mengatakan bahwa dua hari setelah dirinya dilantik sebagai kepala BPBD, ia langsung melakukan investigasi ke lapangan. Sejumlah kecamatanpun dikunjunginya untuk melihat kondiri real di lapangan. Investigasi lapangan dilakukan dengan dasar penetapan dari bupati tentang darurat bencana kekeringan. <br /><br />“Data yang telah kami himpun akan segera kami serahkan ke sekda, selanjutnya akan dilakukan rapat koordinasi dengan instansi yang terkait untuk penanganan lebih lanjut,”ujarnya. <br /><br />Askiman juga mengatakan bahwa di lapangan dirinya telah melakukan koordinasi dengan petugas penyuluh lapangan. Selain data kerusakan tanaman akibat bencana kekeringan, menurutnya petani juga perlu mendapatkan bantuan sarana produksi pertanian. <br /><br />“Kalau untuk menghadapi kondisi rawan pangan, kita memerlukan bantuan pangan berupa beras,”ucapnya lagi. <br />Ia juga menggaku telah mengirimkan permohonan bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Provinsi (BPBP)dan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN). “Besarnya bantuan belum bisa disimpulkan berapa karena kami masih meghimpun data yang di dapat di lapangan. <br /><br />Diungkapkan Askiman saat dirinya melakukan investigasi di lapangan, ternyata banyak masyarakat yang belum paham dengan keberadaan dan fungsi BPBD. <br /><br />“Masyarakat banyak yang belum tahu, sehingga ketika kita turun mereka ada yang mengatakan baru tau kalau mereka bisa mengajukan bantuan,”tegasnya. <strong>(ek/das)</strong><br /><br /></p>


















