Dimelawi, Harga Cabai Tembus Rp 200.000/Kg

oleh

Pedasnya cabai ditahun 2017 ini memang hampir terjadi disejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Melawi yang harganya sempat mencapai Rp 200 ribu sekilo. Bakan kondisi ini menjadi perhatian Presiden RI yang sampai-sampai membuat dirinya harus turun mengecek langsung kondisi dipasar. <p style="text-align: justify;"><br />Menurut Eed, seorang warga Nanga Pinoh, melonjaknya harga cabai pada akhir-akhir ini memang cukup tinggi, sehingga dirinyapun sampai harus mengeluh karena membeli cabai diatas Rp 100 ribu sekilo tersebut. <br /><br />“Saya tahu harga cabai mahal karena saya sendiri yang membelinya dipasar terang Eed Minggu (22/1) kemarin.<br /><br />Eed menmyampaikan berdasarkan hasil perbincangannya kepada pedagang dipasar, sebagian besar cabai yang dijual dipasar-pasar tradisional tersebut didatangkan dari luar Melawi seperti dari Sintang dan Pontinak. <br /><br />“Akibatnya ketika pasokan cabai kurang, sehingga stok cabai kurang yang kemudian berujung kepada naiknya harga cabai dipasaran,” ujarnya.<br /><br />Dikatakan Eed, dari informasi yang dia dapat dari beberapa orang petani yang mengantarkan cabai kepasar, tingginya harga cabai ini karena adanya permainan ditingkat pemasok dan pedagang. Sebab disaat harga cabai dipasaran Rp 100 ribu sekilo, petani hanya menjual cabai kepada pedagang dengan harga Rp 50 ribu sekilo. <br /><br />Permainan ini terjadi tentu karena produksi cabai lokal belum banyak, sebab kalau cabai lokal banyak, apalagi petani langsung berhubungan dengan para pedagang tentu kedepannya sulit bagi pedagang atau agen untuk mempermainkan harga. <br /><br />“Sebab persaingan harga tak lagi ditingkat agen atau pedagang, namun persaingan berada ditangan para petani,” ucapnya.<br /><br />Untuk meningkat produksi cabai tersebut tentu di Melawi harus memiliki banyak petani yang melakukan budidaya tanaman cabai. Sebab yang terjadi selama ini, daerah yang memproduksi cabai masih sedikit, yakni dari daerah Senain Kecamatan Sayan dan Desa Tanjung Sari Kecamatan Nanga Pinoh. <br /><br />“Ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi Pemda Melawi melalui dinas terkait untuk mendorong petani agar kedepannya mengembangkan tanaman cabai,”  tuturnya.<br /><br />Eed mengatakan, kalau berbicara lahan, tentu lahan yang tersedia di Melawi masih cukup luas, untuk budidaya tanaman cabai,  terutama didaerah-daerah diluar Nanga Pinoh. Artinya tinggal bagaimana dari pemerintah mendorong masyarakat untuk menanam cabai, bila perlu dibuat kelompok-kelompok petani budidaya cabai. <br /><br />“Sebenarnya malau juga, lahan masih luas, tapi untuk memenuhi kebutuhan cabai selalu mendatangkan cabai dari luar Melawi terus,”  ucapnya.<br /><br />Saat dikonfirmasi terkait budidaya cabai tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Melawi, Oslan Junaidi mengatakan pada tahun ini pihaknya akan mulai membuat program mengembangkan tanaman-tanaman holtikultura, termasuk didalamnya tanaman cabai. <br /><br />“Tujuanya untuk meningkatkan jumlah produksi cabai dan tanaman holtikultura lainnya,” tukasnya mengakhiri. (KN)</p>