Dinkes Kapuas Hulu: Waspadai Penyebaran Flu Singapura

oleh

Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai penyebaran flu Singapura yang saat ini sudah ditemukan sebanyak 43 kasus di kabupaten itu. <p style="text-align: justify;">"Dalam satu bulan terakhir ini, kita sudah menemukan 43 kasus  di masyarakat yang terkena flu Singapura, yang tersebar di Kecamatan Putussibau Utara, Putussibau Selatan, Semitau dan Mentebah. Makanya kita meminta masyarakat untuk mewaspadainya, karena jika penyakit ini dibiarkan begitu saja dapat menyebabkan kematian," kata Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, Harisson, Minggu.<br /><br />Namun, katanya, 43 kasus flu Singapura yang ditemukan di Kapuas Hulu, itu masih dalam kategori ringan, sehingga tidak perlu dirawat inap. Kecuali anak sampai tidak bisa makan, maka perlu diopname.<br /><br />Dia menjelaskan, flu Singapura adalah istilah untuk penyakit Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). Nama itu diberikan sebab di Singapura lah, penyakit itu menimbulkan kematian yang cukup banyak.<br /><br />Flu tersebut patut diwaspadai pula sebab bisa menimbulkan radang otak dan mematikan jika penderitanya terkena virus yang memiliki virulensi tinggi.<br /><br />Penyakit yang sepanjang tahun selalu muncul itu, memiliki banyak sekali jenis virus. Salah satu virus yang mematikan, seperti yang mewabah di Singapura adalah Enterovirus 71.<br /><br />"Sedangkan virus flu Singapura yang sering dijumpai di Indonesia merupakan tipe Coxsackie A dan Coxsackie B, dimana jenis ini tipenya lebih ringan.Flu biasa pada umumnya hanya menyerang tenggorokan atau batuk, pilek, dan demam," katanya menjelaskan.<br /><br />Gejala itu pula yang biasanya menyertai flu Singapura. Bedanya, setelah anak menderita deman sekitar 2 hingga 3 hari, muncul ruam merah dan lesi-lesi (berair seperti cacar air) pada beberapa bagian di tubuhnya.  Pada flu Singapura disertai dengan munculnya ruam merah dan lesi-lesi di bagian sekitar mulut, lidah, pipi, tenggorokan. Pada bayi bisa juga di selangkangan, tangan, kaki, dan bokong, dimana, lesi-lesi itu lebih mendominasi dibandingkan dengan batuk dan flunya.  Dia menambahkan, flu Singapura lebih sering menyerang anak-anak. Biasanya penyakit ini terjadi pada anak di bawah setahun hingga lima tahun, namun, bisa juga terjadi pada anak usia 10 tahun, walau pun jarang.<br /><br />"Kemungkinan, ini berhubungan dengan daya tahan tubuh pada anak di usia tersebut yang masih lebih rendah. Ditambah lagi, anak-anak usia ini belum mampu menjaga dirinya agar menghindari kontak dari penderita flu Singapura.," katanya.<br /><br />Meski demikian, orang dewasa bisa juga terkena flu Singapura. Tapi manifestasinya tidak muncul lesi, bisa jadi seperti flu biasa saja, sehingga jika orang dewasa yang dicurigai terjangkit flu Singapura tidak melalui penelitian laboratorium, sulit sekali dikenali apakah flu itu disebabkan virus Coxsackie atau virus flu biasa.<br /><br />Rata-rata menyerang balita antara usia satu hingga lima tahun. Terhadap penderita ditangani dengan cara memberikannya vitamin.<br /><br />"Untuk mencegah penularan dan penyebaran penyakit tersebut, dia telah menginstruksikan kepada 23 Puskesmas di Kabupaten Kapuas Hulu untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar penyakit ini tidak meluas. Disamping tindakan pengobatan dan nasehat untuk orang tua yang anak balitanya terkena penyakit ini," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>