Dirut RSUD Sintang Bantah Hutang Obat-Obatan Capai 11 Miliar

oleh

Direktur RSUD Ade M Joen, dr.Harysinto Linoh membantah adanya kabar yang menyebutkan RSUD yang ia pimpin memiliki hutang obat-obatan yang nilainya mencapai Rp 11 miliar. Hutang tersebut dikabarkan berasal dari obat-obatan yang diperuntukan bagi pasien yang menggunakan Jamkesda, Jamkesmas dan Jampersal. <p style="text-align: justify;">Menurut Sinto, anggapan adanya hutang obat-obatan senilai Rp 11 miliar tersebut terlalu berlebihan dan tidak berdasarkan sama sekali.<br /><br />"Sama sekali tidak benar. Itu informasi yang salah jika hutang obat-obatan RSUD Ade M Joen disebut mencapai angka Rp 11 miliar," tegasnya pada kalimantan-news.com saat mengkonfirmasikan hal tersebut, Rabu (12/12/2012) diruang kerjanya.<br /><br />Dijelaskannya, hingga 2012 ini pihak RSUD Ade M Joen sudah menyelesaikan hutang obat-obatan ke distributor mencapai Rp 2 miliar.<br /><br />"Itu hutang-hutang tahun 2011 yang kita selesaikan ditahun ini mencapai sekitar Rp 2 miliar, dan itu bukan hutang tapi hanya keterlambatan pembayaran saja," ungkapnya.<br /><br />Sedangkan untuk tahun 2012 ini, pihaknya telah memprediksikan nilai hutang obat-obatan yang harus diselesaikan ditahun 2013 tidak mencapai Rp 1 miliar.<br /><br />Ditambahkan Sinto, hutang obat-obatan yang terjadi itu bukan disebabkan ketiadaan anggaran untuk membayarkan alias tidak ada uang, namun hal tersebut terkait dengan alur kas.<br /><br />"Itu hanya terkait dengan alur kas saja. Perlu diketahui karena RS ini adalah milik pemerintah daerah, maka alur kas yang terjadi adalah kas di Pemda itu ditutup pada tanggal 15 Desember setiap tahunnya, sedangkan setelah tanggal tersebut masih ada pemesanan obat-obatan yang mengakibatkan transaksi setelah tutup kas/buku tidak bisa dibayarkan lagi," terangnya.<br /><br />Pihak RS sendiri lanjutnya, terkait dengan anggaran obat-obatan sudah melakukan prediksi antara anggaran dengan pasien yang ada, hanya saja bila terjadi lonjakan pasien dengan satu kasus tertentu, maka prediksi penggunaan obat-obatan akan berubah.<br /><br />"Yang tadinya kita sudah perkirakan stok obat mencukupi hingga akhir tahun, tapi karena adanya lonjakan pasien untuk kasus penyakit tertentu maka obat untuk penyakit tersebut pemakaiannya tinggi sehingga sebelum akhir tahun sudah habis stoknya. Nah mau tidak mau kita harus men-stok obat tersebut dan pembayarannya tahun depan jika sudah tutup buku,"jelasnya.<br /><br />Pihaknya berusaha untuk melakukan efisiensi serta efektivitas dalam penggunaan obat-obatan termasuk juga dalam hal pemesanan jenis obat-obatan itu sendiri.<br /><br />"Saya tidak mau RSUD Ade M Joen ini setiap tahunnya berutang, apalagi kita sekarang sudah menjadi BLUD," ujarnya.<br /><br />Terkait dengan obat-obatan yang diperuntukan bagi pasien pemegang Jamkesda, Jamkesmas dan Jampersal menurutnya hal tersebut tidak menjadi masalah, karena sudah dianggarkan tersendiri oleh pemerintah pusat dan daerah.<br /><br />"Untuk 3 Jam tersebut jelas tidak ada masalaha karena sudah dijamin tersendiri oleh pemerintah baik pusat dan daerah," kata Sinto.<br /><br />RSUD Ade M Joen sendiri, ungkap Sinto 60 sampai 70 persen pasiennya adalah pemegang kartu Jamkesmas, Jamkesda dan Jampersal, sedangkan sisanya adalah pasien umum. <strong>(*/foto: dok)</strong></p>