Serapan pupuk subsidi sepanjang 2011 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) masih rendah dan hanya mencapai 60 persen. <p style="text-align: justify;"><br />"Pemerintah Kotim pada 2011 ini menyediakan 105,10 ton pupuk subsidi dan yang terserap baru 60 persen," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), I Made Dikantara di Sampit, Senin.<br /><br />Beberapa wilayah di Kotim sudah memasuki musim tanam kondisi, namun masih ada kelompok tani yang belum menyerahkan data Rencana Definitif Kerja Kelompok (RDKK).<br /><br />Setiap kelompok tani yang ada di Kotim dan ingin mendapat pupuk subsidi wajib terdata dalam RDKK. Data RDKK itu dipergunakan Distanak sebagai acuan dalam pembagian pupuk subsidi kepada petani.<br /><br />Meskipun sudah dijual dengan harga murah, alasan kelompok tani belum mengajukan RDKK karena prosesnya yang dinilai rumit. Selain itu petani juga harus menyiapkan dana kontan saat membeli pupuk subsidi.<br /><br />Menurut Dikantara, rumitnya proses birokrasi dalam mendapat pupuk subsidi membuat petani yang memiliki modal menjadi malas membeli pupuk bersubsidi dan lebih memilih pupuk nonsubsidi meski harganya lebih mahal dengan alasan mudah didapatkan.<br /><br />Sebagian besar petani Kotim lebih memilih menggunakan pupuk nonsubsidi karena urusannya tidak ribet selain itu pupuk nonsubsidi dinilai lebih cocok dengan kondisi sawah milik mereka.<br /><br />Kebanyakan masalah yang dihadapi petani karena tidak memiliki dana cash, meskipun stok pupuk tersedia. Selain itu Ada juga yang lebih memilih pupuk nonsubsidi.<br /><br />"Penyaluran pupuk subsidi kepada petani selama ini berdasarkan data RDKK dan kami juga tidak berani melayani petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani, sebab apabila hal itu dilakukan maka kami akan disalahkan," katanya.<br /><br />Sebetulnya Distanak juga ingin membantu beban para petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani tersebut. <strong>(das/ant)</strong></p>















